Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengukur disiplin kerja
dikemukakan oleh Hasibuan (2013:194) sebagai berikut ;
- Tujuan dan Kemampuan, ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan
karyawan. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara
ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti
bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada karyawan harus
sesuai dengan kemampuan karyawan bersangkutan, agar dia bekerja
dengan sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. - Teladan Pimpinan, sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan
karyawan, karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para
bawahannya.Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisiplin
baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan
pimpinan yang baik, kedisiplinan bawahan pun akan baik. Jika teladan
pimpinan kurang baik (kurang berdisiplin), para bawahan pun akan
kurang disiplin. - Balas Jasa, Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi
kedisiplinan karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan
kecintaan karyawan terhadap perusahaan pekerjaannya. Jika kecintaan
karyawan semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan mereka akan
semakin baik pula. Balas jasa berperan penting untuk menciptakan
kedisiplinan karyawan.Artinya semakin besar balas jasa, semakin baik
kedisiplinan karyawan.Sebaliknya, apabila balas jasa kecil, kedisiplinan
karyawan menjadi rendah.Karyawan sulit untuk berdisiplin baik selama
kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan baik. - Keadilan, Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan,
karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting, dan
minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang
dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan)
atau hukuman, akan merangsang terciptanya kedisiplinan karyawan
yang baik. Manajer yang cakap dalam memimpin selalu berusaha
bersikap adil terhadap semua bawahannya. Dengan keadilan yang baik,
akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus
diterapkan dengan baik pada setiap perusahaan agar kedisiplinan
karyawan perusahaan baik pula. - Wakat (Pengawasan Melekat), adalah tindakan nyata dan paling efektif
dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan.Dengan waskat
berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral,
sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja bawahannya.Hal ini berarti atasan
harus selau hadir di tempat kerja agar dapat mengawasi dan memberikan
petunjuk jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan pekerjaannya.Waskat efektif merangsang kedisiplinan
dan moral kerja karyawan.Karyawan merasa mendapat perhatian,
bimbingan, petunjuk, pengarahan dan pengawasan dari atasannya. - Sanksi Hukuman, berperan penting dalam memelihara kedisiplinan
karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, karyawan akan
semakin takut melanggar peraturan perusahaan, sikap, dan perilaku
indisipliner karyawan akan berkurang. - Ketegasan, Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan
mempengaruhi kedisiplinan karyawan perusahaan. Pimpinan harus
berani dan tegas bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang
indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.
Pimpinan yang berani menindak tegas menerapkan hukuman bagi
karyawan yang indisipliner akan disegani dan diakui kepemimpinannya
oleh bawahannya. Dengan demkian, pimpinan akan memelihara
kedisiplinan karyawan perusahaan. - Hubungan Kemanusiaan, Hubungan kemanusiaan yang harmonis
diantara sesama karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada
suatu perusahaan.Hubungan-hubungan baik bersifat vertikal maupun
horizontal yang terdiri dari Direct Single Relationship, Direct Group
Relationship, dan Cross Relationship hendaknya berjalan harmonis.
