Teori Motivasi


Terdapat banyak teori motivasi yang mulai berkembang pada dasawarsa 1950- an. Setidaknya ada enam teori yang akan dibahas untuk memahami apa yang
dimaksud dengan motivasi. Setiap teori akan berusaha untuk menguraikan berbagai
manusia itu dan dapat menjadi seperti apa. Oleh karenanya, sebuah teori motivasi
mempunyai isi dalam bentuk pandangan tertentu mengenai manusia. Isi teori
motivasi membantu kita memahami dunia ke terlibatan manajer dan karyawan saling
terlibat setiap hari. Kerena teori motivasi mencakup pengembangan manusia, isi dari
teori motivasi juga membantu manajer dan karyawan dalam dinamika kehidupan
organisasi (Dell, 1991, dalam Wahjono: 78)
Teori motivasi ini diungkapkan oleh Frederick Taylor yang menyatakan bahwa
pekerja hanya termotivasi semata-mata karena uang. Konsep ini menyatakan bahwa
seseorang akan menurun semangat kerjanya bila upah yang diterima dirasa terlalu
sedikit atau tidak sebanding dengan pekerjaan yang harus dilakukan Griffin,
(1998:259)
Menurut Wahjono (2010: 79) akan dibahas tiga teori awal tentang motivasi
(teori jenjang kebutuhan Maslow, teori X dan Y McGregor, dan teori dua faktor
Herzberg) yang merupakan teori motivasi yang paling banyak dipraktik-kan dalam
organisasi sampai saat ini dan merupakan pondasi dari teori–teori motivasi yang
kontemporer.
1) Teori Jenjang Kebutuhan Maslow
Maslow (1970, dalam Wahjono: 79) hipotesiskan bahwa dalam diri manusia
terdapat lima kebutuhan yang berjenjang. Mulai dari kebutuhan tingkat dasar yang
berupa fisiologis yang bersufat pemuasan ragawi tentang makan, minum, dan seks,
kebutuhan akan keamanan dan rasa aman, kebutuhan akan sosial, kebutuhan akan
penghargaan, sampai pada kebutuhan tertinggi yang dimiliki manusia yaitu
kebutuhan akan aktualisasi diri. Hanya akan timbul kebutuhan yang di atas mana
kala kebutuhan yang dibawahnya telah terpuaskan, begitu seterusnya sampai pada
jenjang yang tertinggi yaitu aktualisasi diri.
Menurut Robbin (2008) teori ini merupakan teori yang paling terkenal dari
Abraham Maslow. Hipotesisnya :

  1. Kebutuhan flsiologis, adalah kebutuhan manusia yang bersifat fisik.
    Seperti : rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian dan perumahan), seks,
    kebutuhan fisik lain.
  2. Kebutuhan rasa aman, merupakan kebutuhan manusia yang muncul setelah
    kebutuhan fisik terpenuhi, antara lain: keselamatan dan perlindungan terhadap
    kerugian fisik dan emosional.
  3. Kebutuhan sosial, ialah kebutuhan manusia yang muncul karena adanya
    interaksi sosial antara manusia satu dengan manusia lainnya, dan antara
    manusia dengan kelompok, mencakup: rasa kasih sayang, rasa memiliki, rasa
    menerima, dan persahabatan.
  4. Kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan manusia yang lebih bersifat
    kepentingan pribadi atau ego, mencakup faktor penghargaan eksternal, seperti:
    misalnya status, pengakuan dan perhatian.
  5. Kebutuhan perwujudan atau aktualisasi diri, adalah kebutuhan seseorang
    menjadi manusia sesuai kecakapannya, antara lain: pertumbuhan, pencapaian
    potensi, dan pemenuhan kebutuhan diri.