“Kontroversi kepuasan – kinerja” telah muncul sejak lama. Meskipun
banyak orang mengasumsikan hubungan yang positif, tidak demikian halnya
dengan penelitian saat ini. Sekitar 20 tahun yang lalu, studi yang dinilai menurut
meta-analisis mengindikasikan hubungan yang lemah (korelasi taksiran terdekat
0,17) antara kepuasan dan kinerja. Akan tetapi, analisis konseptual, metodologi
empiris, dan praktis mempertanyakan dan memperdebatkan hasil yang lemah
tersebut. Meta-analisis yang lebih rumit dilakukan oleh Tim Jugde dan rekannya
pada 312 sampel dengan kombinasi N 54,417 menemukan korelasi sebenarnya
menjadi 0,30. Dengan demikian hasil analisis ini menunjukkan hubungan yang
jauh lebih kuat antara kepuasan kerja dan kinerja karyawan (Luthans, 2006:
246).
Kaitan kepuasan kerja dengan kinerja karyawan juga dikemukakan oleh
Ostroff (1992) ditunjukkan oleh keadaan perusahaan dimana karyawan yang
lebih terpuaskan cenderung lebih efektif daripada perusahaan-perusahaan
dengan karyawan yang kurang terpuaskan. Dessler (2000) yang menyatakan
bahwa kepuasan kerja antara lain mempunyai peran untuk mencapai
produktivitas dan kualitas standar yang lebih baik, menghindari terjadinya
kemungkinan membangun kekuatan kerja yang lebih stabil, serta penggunaan
sumber daya manusia yang lebih efisien.
Hasil penelitian dari McNeese–Smith (1996) menunjukkan hubungan
antara kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Dalam penelitiannya,
kepuasan kerja dan komitmen organisasional merupakan variabel independen
yang berpengaruh signifikan dan positif terhadap sikap manajemen terhadap
strategi perusahaan yang tercermin melalui kinerja karyawan.
