Stres kerja mempunyai arti yang berbeda-beda bagi masing-masing individu.
Kemampuan setiap orang beraneka ragam dalam mengatasi jumlah, intensitas, jenis
dan lamanya stres. Stres merupakan sesuatu yang menyangkut interaksi antara
individu dan lingkungan yaitu interaksi antara stimulasi dan respons. Jadi setres
adalah konsekuensi setiap tindakan dan situasi lingkungan yang menimbulkan
tuntutan psikologis dan fisik yang berlebihan pada seseorang (Sunyoto, 2012:61).
Kata stres berasal dari bahasa lain Stingere, yang digunakan pada abad XVII
untuk menggambarkan kesukaran, penderitaan dan kemalangan. Stres adalah
ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang
menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan dan adanya
kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan
kondisi fisik seseorang (Tunjungsari, 2011:3-4). Stres kerja adalah suatu kondisi
ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis yang
mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seorang karyawan seperti: rasa
takut, cemas, rasa bersalah, marah, sedih, putus asa dan bosan yang dihadapinya
dalam lingkungan kerja (Angraini, 2017:3).
Menurut Nawawi (2006) yang dikutip oleh Astianto dan Suprihadi (2014:3)
definisi stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis.
Keadaan tertekan tersebut secara umum merupakan kondisi yang memiliki
karakteristik bahwa tuntutan lingkungan melebihi kemampuan individu untuk
meresponnya. Lingkungan tidak berarti hanya lingkungan fisik saja, tetapi juga
lingkungan sosial. Lingkungan seperti ini juga terdapat dalam organisasi kerja
sebagai tempat setiap anggota organisasi atau karyawan menggunakan sebagian
besar waktunyadalam kehidupan sehari-hari.
Wijono (2015:145) menjelaskan bahwa stres kerja sebagai suatu keadaan
yang timbul dalam interaksi di antara manusia dan pekerjaan. secara umum stres
kerja diartikan sebagai rangsangan eksternal yang menganggu fungsi mental, fisik
dan kimiawi dalam tubuh seseorang. Siagian (2012:140) mengatakan bahwa stres
kerja merupakan salah satu permasalahan yang sering dialami oleh karyawan di
tempat kerjanya. Penanggulanagn stres kerja bagi individu sangat penting
dilakukan karena stres dapat mempengaruhi kehidupan, kesehatan dan
produktivitas karyawan.
Menurut Robbins (2006) dalam Karambut, dkk (2012:658) menyatakan
bahwa stres adalah suatu kondisi dinamik yang didalamnya seorang individu
dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala atau tuntutan yang dikaitkan
dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai
tidak pasti dan penting.
Menurut Mangkunegara (2011:57) menyatakan bahwa stres kerja adalah
perasan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan. Stres Kerja
merupakan kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses pikiran, dan
kondisi fisik seseorang, apabila stres ini terlalu besar maka dapat mengancam
kemampuan seseorang dalam menghadapi lingkungan (Davis dan Newstrom,
dalam Robbins dan Judge, 2013:380).
Menurut Ivancevich dan Matteson mendefinisikan stres sebagai interaksi
individu dengan lingkungan, tetapi kemudian mereka memperinci definisi kerja
sebagai respon adaptif yang dihubungkan oleh perbedaan individu dan atau proses
psikologi yang merupakan konsekuensi tindakan, situasi atau kejadian eksternal
(lingkungan) yang menempatkan tuntutan psikologis dan atau fisik secara
berlebihan pada seseorang. Dan menurut Beehr dan Newman mendefinisikan stres
kerja sebagai kondisi yang muncul dari interkasi antara manusia dan pekerjaan serta
dikarakteristikan oleh perubahan manusia yang memaksa mereka untuk
menyimpang dari fungsi normal mereka (Luthans, 2006:441).
Berdasarkan pendapat para ahli, maka peneliti menyimpulkan bahwa stres
kerja merupakan bentuk respon psikologis dari tubuh terhadap tekanan-tekanan,
tuntutan-tuntutan pekerjaan yang melebihi kemampuan yang dimiliki, baik dalam
tuntutan fisik maupun lingkungan dan situasi sosial yang mengganggu pelaksanaan
tugas, yang muncul dari interaksi antara individu dengan pekerjaannya, dan dapat
merubah fungsi fisik serta psikis yang normal, sehingga dinilai membahayakan, dan
tidak menyenangkan yang ada pada diri individu.
Akan tetapi menurut Robbins (2008:369) stres sendiri tidak mesti buruk,
meskipun biasanya dibahas dalam konteks negatif. Stres juga memiliki nilai positif
yakni sebuah peluang ketika menawarkan potensi hasil. Dewasa ini, para peneliti
berpendapat bahwa stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja (misalnya
tugas dan tanggungjawab), beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan yang
menghalangi karyawan mencapai tujuan (misal politik kantor dan birokrasi).
Pengaruh stres kerja yang memiliki dampak positif yang menguntungkan
diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan
sebaik-baiknya. Namun dalam penelitian ini jenis stres kerja yang dimaksud adalah
stres kerja yang berdampak negatif
