Partisipasi Pekerja Wanita (skripsi dan tesis)

Menurut Mubyarto, (1985: 92), salah satu kenyataan dari sumbangan wanita dalam pembangunan adalah partisipasi wanita itu sebagai tenaga kerja dalam berbagai bidang kehidupan ekonomi. Konsekuensi dari partisipasi tersebut nampak pula dari berbagai masalah yang dihadapi wanita, lebih-lebih jika mengingat “peranan ganda” dari wanita dalam keluarga, rumah tangga serta dalam masyarakat luas. Jika melihat kedudukan (status) wanita dalam keluarga (konsepsional) dan rumah tangga (operasional), serta masyarakat luas dari peranannya yang ganda itu, maka hal ini berarti bahwa: a) Di satu pihak sebagai ibu rumah tangga dalam keluarga masing-masing wanita itu berperan sebagai tenaga kerja “domestik” yang tidak mendatangkan hasil secara langsung. b) Di lain pihak, sesuai dengan perkembangan masyarakat, khususnya di bidang perekonomian masyarakat yang agraris, nampak dengan nyata peran serta wanita itu sebagai tenaga kerja di bidang pencari nafkah yang mendatangkan hasil secara langsung (Mubyarto, 1985: 93). Menurut Sumarsono (2008), peningkatan partisipasi wanita dalam kegiatan ekonomi karena:
1. Adanya perubahan pandangan dan sikap masyarakat tentang sama pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan pria, serta makin disadari perlunya kaum wanita ikut berpartisipasi dalam pembangunan.
 2. Adanya kemauan wanita untuk bermandiri dalam bidang ekonomi yaitu berusaha membiayai kebutuhan hidupnya dari kebutuhan hidup dari orangorang yang menjadi tanggungannya dengan penghasilan sendiri.
Menurut Sulistyaningsih (dalam Nursyahbani, 2001: 39), peningkatan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita berkaitan dengan proses transformasi sosial ekonomi yang diikuti oleh peningkatan dan pergeseran dalam permintaan tenaga kerja, termasuk didalamnya tenaga kerja wanita. Besarnya jumlah angkatan kerja wanita sangat dipengaruhi oleh usia di saat mereka kawin, frekuensi mereka yang tidak kawin, janda dan lain-lain bentuk perkawinan yang retak, serta derajat dan pola tingkat fertilitas. Sebaliknya, keanekaragaman dalam tingkat kegiatan wanita karena faktor-faktor lain dapat menimbulkan reaksi terhadap pola-pola tingkah laku yang berkenaan dengan perkawinan dan pemeliharaan anak (Munir dan Budiarto, 1985: 45). Usia di saat wanita menikah dan melahirkan anak, bersama dengan persyaratan-persyaratan peran serta para istri dan ibu dalam kegiatan ekonomis, tidak saja mempengaruhi besarnya angkatan kerja wanita tetapi juga mempengaruhi derajat relatif dari tingkat kegiatan spesifik pada berbagai kelompok umur wanita (Munir dan Budiarto, 1985: 53).
 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Wanita, di antaranya yaitu: 1. Faktor Internal Menurut Samsunumiyati (dalam Mentari, dkk, 2016: 39), faktor internal adalah segala sesuatu yang ada dalam diri individu yang keberadaannya mempengaruhi dinamika perkembangan. a) Umur b) Tingkat Pendidikan c) Adanya Kemauan untuk Bekerja 2. Faktor Eksternal Menurut Samsunumiyati (dalam Mentari, dkk, 2016: 39), faktor eksternal adalah segala sesuatu yang berada di luar diri individu yang keberadaannya mempengaruhi terhadap dinamika perkembangan. a) Kesulitan Ekonomi Keluarga b) Jumlah Tanggungan Keluarga c) Upah Tenaga Kerja dari Sektor yang Bersangkutan d) Pendapatan Suami e) Status Perkawinan 9 Menurut Sumarsono (2003) ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat partisipasi kerja (TPK), antara lain: 1. Jumlah penduduk yang masih bersekolah 2. Jumlah penduduk yang mengurus rumah tangga 3. Tingkat pendapatan dan jumlah tanggungan keluarga 4. Umur 5. Tingkat Upah 6. Tingkat Pendidikan 7. Kegiatan Ekonomi Sedangkan menurut Hastuti EL (dalam Monica, 2014: 18), tingkat partisipasi angkatan kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor baik secara sosial maupun demografi serta ekonomi. Faktor-faktor tersebut antara lain: umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal, pendapatan, dan agama. Relatif rendahnya partisipasi pekerja wanita dengan tingkat pendidikan menengah lebih dikarenakan ketidakmampuan mereka dalam berkompetisi dengan yang berpendidikan lebih tinggi untuk masuk di sektor modern, disamping keengganan mereka untuk masuk ke sektor informal yang lebih tradisional. Sedangkan wanita dengan tingkat pendidikan yang tinggi cenderung unutk berpartisipasi di pasar kerja terutama di jenis-jenis pekerjaan sektor modern yang membutuhkan pekerja yang berketerampilan tinggi. Daya tarik upah yang tinggi juga menyebabkan banyak wanita dengan pendidikan tinggi untuk memutuskan masuk ke pasar kerja (Manning, dalam Devanto S.P, 2017: 2)