Biaya produksi merupakan sebagian keseluruhan faktor produksi yang dikorbankan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk. Dalam kegiatan perusahaan, biaya produksi dihitung berdasarkan jumlah produk yang siap dijual. Biaya produksi sering disebut ongkos produksi. Berdasarkan definisi tersebut, pengertian biaya produksi adalah keseluruhan biaya yang dikorbankan untuk menghasilkan produk hingga produk tersebut sampai di pasar, atau sampai ke tangan konsumen (Widjajanta dan Widyaningsih, 2007). Secara sederhana biaya produksi dapat dicerminkan oleh jumlah uang yang dikeluarkan untuk mendapat sejumlah input, yaitu secara akuntansi sama dengan jumlah uang keluar yang tercatat. Didalam ekonomi, biaya produksi mempunyai pengertian yang lebih luas. Biaya dari input dapat diartikan sebagai balas jasa dari input tersebut pada pemakaian terbaiknya. Biaya ini tercermin dari biaya korbanan (oportunity cost), biaya korbanan terdiri dari biaya eksplisit dan implisit (Sugiarto dkk, 2007). Menurut Soekartawi (1999), biaya produksi adalah nilai dari semua faktor produksi yang digunakan, baik dalam bentuk benda maupun jasa selama proses produksi berlangsung, biaya produksi yang digunakan terdiri dari sewa tanah, bunga modal, biaya sarana produksi dan tenaga kerja.
Menurut Suhartati dan Fathorrozi (2003) Biaya produksi berdasarkan realitasnya dapat dibedakan menjadi , yaitu : a. Biaya eksplisit Biaya ekplisist adalah pengeluaran yang nyata dari suatu perusahaan untuk membeli atau menyewa input atau faktor produksi yang diperlukan didalam proses produksi. Biaya ekspilsit meliputi biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja luar keluarga, biaya penyusutan alat, dan biaya lain-lain. b. Biaya implisit Biaya implisit adalah nilai dari input milik sendiri atau keluarga yang digunakan oleh perusahaan itu sendiri didalam proses produksi. Biaya implisit meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya bunga modal sendiri, dan biaya sewa tempat milik sendiri
