Faktor yang Mempengaruhi Makna Hidup (skripsi dan tesis)

Ada banyak faktor yang mempengaruhi Makna Hidup, disebutkan oleh
Baumeister (dalam Santrock, 2011:97) mengemukakan makna hidup dapat
dipahami menurut empat kebutuhan akan makna, yang merupakan faktor yang
membimbing seseorang membuat makna hidup mereka yaitu :
a. Kebutuhan akan keterarahan
“Peristiwa-peristiwa yang berlangsung saat ini dapat memperoleh makna
dari keterkaitannya dengan peristiwa-peristiwa masa depan”. Keterarahan dapat
dibagi kedalam tujuan dan pemenuhan. Hidup dapat diorientasikan ke kondisi di
masa depan yang diantisipasikan, seperti hidup bahagia selamanya atau dicintai.
b. Kebutuhan akan nilai
Hal ini dapat menggiring pada penghayatan mengenal kebajikan dan
membenarkan rangkaian-rangkaian tindakan tertentu. Nilai-nilai memungkinkan
seseorang untuk memutuskan apakah tindakan-tindakan tersebut benar atau salah.
c. Kebutuhan akan penghayatan terhadap efikasi
Hal ini mencakup keyakinan bahwa seseorang dapat membuat perubahan.
Hidup yang memiliki arah dan nilai namun tidak memiliki efikasi akan menjadi
hidup yang tragis.
d. Kebutuhan akan nilai diri (self-worth)
Sebagian besar individu ingin menjadi pribadi baik dan berharga. Self
worth dapat dikejar secara individual. Para peneliti semakin sering mempelajari
faktor-faktor yang terlibat dalam proses eksplorasi seseorang akan pemaknaan
dalam hidup dan apakah mengembangkan rasa pemaknaan dalam hidup berkaitan
dengan hasil perkembangan yang positif.
Kemudian dilanjutkan dengan pendapat dari Frankl (2003:127), ada tiga
makna hidup yang dapat membawa manusia kepada makna hidupnya, yaitu :
a. Makna Kerja
Makna hidup bukanlah untuk dipertanyakan tetapi untuk dijawab, karena
kita bertanggung jawab atas hidup ini. Jawaban ini diberikan dalam kata-kata
tetapiyang utama adalah dengan berbuat dan dengan melakukannya. Aktualisasi
nilai-nilai kreatif memberikan makna kepada kehidupan seseorang biasanya
terkandung dalam pekerjaan seseorang.
b. Makna Penderitaan
Penderitaan memberikan satu makna manakala individu menghadapi
situasi kehidupan yang tidak dapat dihindari. Bilamana suatu keadaan sungguhsungguh tidak bisa diubah dan individu tidak lagi memiliki peluang untuk
merealisasikan nilai-nilai kreatif, maka saatnya untuk merealisasikan nilai-nilai
bersikap. Dalam penderitaan individu berada dalam ketegangan atas apa yang
seharusnya terjadi dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan. Nilainilai dalam bersikap teraktualisasi ketika individu diharapkan pada sesuatu yang
sudah menjadi takdirnya. Dalam menghadapi masalah ini, individu bersikap
menerima kesulitan-kesulitan hidupnya dan disanalah teraktualisasi potensipotensi nilai yang tidak terkira banyaknya.
c. Makna Cinta
Eksistensi manusia didasari oleh keunikan dan keistimewaan individu
tersebut. Cinta berarti mengalami hidup bersama orang lain dengan segala
keunikan dan keistimewaannya. Dalam cinta terjadi penerimaan penuh akan nilainilai, tanpa kontribusi maupun usaha dari yang dicintai, cinta membuat si pecinta
menerima segala keunikan dan keistimewaan orang yang dicintainya. Cinta
memungkinkan individu untuk melihat inti spiritual orang lain, nilai-nilai
potensial dan hakekatyang dimilikinya. Cinta memungkinkan kita untuk
mengalami kepribadian orang lian dalam dirinya sendiri dan dengan demikian
memperluas dunia kita sendiri. Bahkan pengalaman kita dalam cinta berubah
menjadi kisah yang menyedihkan, kita tetap diperkaya dengan diberikan makna
yang lebih mendalam akan hidup. Manusia rela menanggung resiko mengalami
sekian banyak kisah cinta yang menyedihkan asalkan ia dapat mengalami satu
kisah yang membahagiakan.
Demikian uraian tentang makna hidup yang di uraikan oleh beberapa tokoh
dapat disimpulkan, beberapa faktor yang mempengaruhi makna hidup,
diantaranya adalahKebutuhan akan keterarahan, Kebutuhan akan nilai, Kebutuhan
akan penghayatan terhadap efikasi, Kebutuhan akan nilai diri (self-worth).
Keempat faktor ini merupakan kebutuhan-kebutuhan yang merefleksikan manusia
dan memberi pengaruh besar dalam kebermaknaan hidup seseorang.
B. Wanita Dewasa Madya
1. Pengertian Wanita Dewasa Madya
Menurut sumber yang peneliti kutip dari (Santrock, 2010 : 139) Usia
dewasa tengah (middle adult-hood) sebagai periode perkembangan yang dimulai
kira-kira pada usia 35-45 tahun hingga memasuki usia 60-an. Karena bagi banyak
orang, paruh kehidupan adalah suatu masa menurunnya ketrampilan fisik dan
semakin besarnya tanggung jawab.Suatu periode dimana orang menjadi semakin
sadar akan polaritas muda – tua dan semakin berkurangnya jumlah waktu yang
tersisa dalam kehidupan.Suatu titik ketika individu berusaha meneruskan sesuatu
yang berarti pada generasi berikutnya dan suatu masa ketika orang mencapai dan
mempertahankan kepuasan dalam karirnya.
Wanita dewasa madya menurut Hurlock(2007:203) adalah rentang
kehidupan manusia yang terbagi menjadi dua bagian, meliputi: usia madya dini
dari usia 40 tahun sampai dengan 50 tahun dan usia dewasa usia madya lanjut
yang dimulai dari usia 50 tahun sampai dengan 60 tahun. Pada masa dewasa
madya akan terjadi perubahan fisik maupun psikologis yang tampak pada awal
usia 40 tahun.
Berdasarkan keterangan diatas, wanita yang masuk dalam kategori usia
dewasa madya adalah yang berusia dari 35 tahun sampai dengan 60 tahun. Dengan
ciri perubahan fisik dan psikologis yang ditandai dengan menurunnya ketrampilan
fisik dan semakin besarnya tanggung jawab. Semakin sadar akan kemampuan diri
dan sebuah masa dimana usia tersebut sudah mencapai puncak karier atau
kemerosotan keinginan dalam karier.
2. Karakteristik Wanita Dewasa Madya
Masa dewasa madya memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan
pada masa dewasa awal, berikut ini karakteristik dewasa madya (Hurlock, 2007 :
320):
a. Usia Madya Merupakan Periode yang Sangat Ditakuti
Ciri pertama dari usia madya adalah bahwa masa tersebut merupakan
periode yang sangat menakutkan. Diakui bahwa semakin mendekati usia tua,
periode usia madya semakin terasa lebih menakutkan dilihat dari seluruh
kehidupan manusia. Kebanyakan orang dewasa menjadi rindu pada masa muda
mereka dan berharap dapat kembali ke masa itu. (Hurlock, 2007 : 320)
b. Usia Madya Merupakan Masa Transisi
Ciri yang kedua dari usia madya adalah bahwa usia ini merupakan masa
transisi. Transisi senantiasa berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola
perilaku yang baru. Pada usia madya, cepat atau lambat, semua orang dewasa
harus melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan jasmani dan harus
menyadari bahwa pola perilaku pada usia mudanya harus diperbaiki secara
radikal. (Hurlock, 2007 : 321)
c. Usia Madya Adalah Masa Stress
Hurlock, (2007 : 321) Ciri ketiga dari usia madya adalah bahwa usia ini
merupakan masa stress. Kategori stress pada usia madya antara lain :
(1) Stress Somatik
Stress yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang menunjukan usia tua.
(2) Stress Budaya
Stress yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan,
keperkasaan dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.
(3) Stress Ekonomi
Stress yang diakibatkan oleh beban keuangan dari mendidik anak dan
memberikan status simbol bagi seluruh anggota keluarga.
(4) Stress Psikologis
Stress yang diakibatkan oleh kematian suami atau istri, kepergian anak
dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, atau rasa hilangnya masa muda dan
mendekati ambang kematian.
d. Usia madya adalah “Usia yang Berbahaya”
Ciri keempat dari usia madya adalah bahwa umumnya usia ini dianggap
atau dipandang sebagai usia yang berbahaya dalam rentang kehidupan. Cara biasa
menginterpretasi “usia berbahaya” ini berasal dari kalangan pria yang ingin
melakukan pelampiasan untuk kekerasan yang berakhir sebelum memasuki usia
lanjut. (Hurlock, 2007:322)
e. Usia Madya adalah Usia Canggung
Ciri kelima usia madya dikenal dengan istilah “usia serba canggung
(awkward age”. Sama seperti remaja, bukan anak-anak bukan juga dewasa,
demikian juga pria dan wanita berusia madya bukan “muda” lagi tapi bukan juga
tua. (Hurlock, 2007: 322)
f. Usia Madya adalah Masa Berprestasi
Ciri keenam dari usia madya adalah bahwa usia tersebut adalah masa
berprestasi. Menurut erikson, usia madya merupakan masa kritis dimana baik
“generativitas”, kecenderungan untuk menghasilkan maupun stagnansi,
kecenderungan untuk berhenti akan dominan. (Hurlock, 2007:322).
g. Usia Madya Merupakan Masa Evaluasi.
Ciri ketujuh dari usia madya adalah bahwa usia ini terutama sebagai masa
evaluasi diri. Karena usia madya ini pada umumnya merupakan saar pria dam
wanita mencapai puncak prestasinya, maka logislah apabila masa ini juga
merupakan saat mengevaluasi prestasi tersebut berdasarkan aspirasi mereka
semula dan harapan-harapan orang lain, khususnya anggota keluarga dan teman.
(Hurlock, 2007:323).
h. Usia Madya Dievaluasi dengan Standar Ganda
Ciri kedelapan dari usia madya adalah bahwa masa itu dievaluasi dengan
standar ganda, satu standar bagi pria dan satu bagi wanita. Yang pertama adalah
aspek yang berkaitan dengan perubahan jasmani, dan yang kedua adalah aspek
yang berkaitan dengan cara mereka menyatakan sikap terhadap usia tua. (Hurlock,
2007:324).
i. Usia Madya Merupakan Masa Sepi
Ciri kesembilan dari usia madya adalah bahwa masa ini dialami sebagai
masa sepi (emptyness), masa ketika anak-anak tidak tinggal lagi dengan orang tua.
Kecuali dalam beberapa kasus dimana pria dan wanita menikah lebih lambat
dibandingkan usia rata-rata, atau menunda kelahiran anak hingga mereka lebih
mapan dalam karier, atau mempunyai keluarga besar sepanjang masa, usia madya
merupakan masa sepi dalam kehidupan perkawinan. (Hurlock, 2007 : 324)
j. Usia Madya Merupakan Masa Jenuh
Ciri kesepuluh usia madya adalah bahwa seringkali periode ini merupakan
masa yang penuh dengan kejenuhan. Banyak atau hampir seluruh pria dan wanita
mengalami kejenuhan pada akhir usia tiga puluhan dan empat puluhan.(Hurlock,
2007 : 324)
Berdasarkan uraian yang sudah di sebutkan diatas, aspek usia dewasa
madya terbagi menjadi sepuluh bagian, Usia Madya Merupakan Periode yang
Sangat Ditakuti,Usia Madya Merupakan Masa Transisi, Usia Madya Adalah Masa
Stress, Usia madya adalah “Usia yang Berbahaya”, Usia Madya adalah Usia
Canggung, Usia Madya adalah Masa Berprestasi, Usia Madya Merupakan Masa
Evaluasi, Usia Madya Dievaluasi dengan Standar Ganda, Usia Madya Merupakan
Masa Sepi, Usia Madya Merupakan Masa Jenuh. Aspek-aspek inilah yang
mewakili dinamika perkembangan dalam usia dewasa madya.
3. Tugas Perkembangan Pada Usia Madya
Hurlock, (2007 : 325) menyatakan, ada beberapa tugas perkembangan
pada usia madya, sebagai berikut :
a. Tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik.
Tugas ini meliputi untuk mau melakukan penerimaan akan dan
penyesuaian dengan berbagai perubahan fisik yang normal terjadi pada usia
madya.
b. Tugas yang berkaitan dengan perubahan minat.
Orang yang berusia madya seringkali mengasumsikan tanggungjawab
warga negara dan sosial, serta mengembangkan minat pada waktu luang yang
berorientasi pada kedewasaan pada tempat kegiatan-kegiatan yang berorientasi
pada keluarga yang biasa dilakukan pada masa dewasa dini.
c. Tugas yang berkaitan dengan penyesuaian kejujuran.
Tugas ini hanya berkisar pada pemantapan dan pemeliharaan standar hidup
yang relatif mapan.
d. Tugas yang berkaitan dengan kehidupan keluarga.
Tugas yang penting dalam kategori ini meliputi hal-hal yang berkaitan
dengan seseorang sebagai pasangan, menyesuaikan diri dengan orangtua yang
lanjut usia, dan membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang
bertanggungjawab dan bahagia.
Berdasarkan uraian diatas, tugas perkembangan pada usia dewasa madya
di bagi menjadi empat bagian, Tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik,
Tugas yang berkaitan dengan perubahan minat, Tugas yang berkaitan dengan
penyesuaian kejujuran, dan Tugas yang berkaitan dengan kehidupan keluarga.
Tugas perkembangan tersebut harus dijalani oleh individu yang sudah masuk
dalam kategori usia dewasa madya.
C. Pekerja Seks Komersial
1. Pengertian Pekerja Seks Komersial
Pelacuran atau prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit
masyarakat, yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha
pencegahan dan perbaikannya. Pelacur atau prostitusi berasal dari bahasa latin
pro- stitueren atau pro-stauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zina,
melakukan persundalan, pencabulan, pergendakan. Sedangkan prostitute
adalah pelacur atau sundal, dikenal pula dengan istilah WTS atau wanita tuna
susila kemudian diperhalus lagi menjadi pekerja seks komersial atau yang lebih
dikenal dengan sebutan PSK (Kartini Kartono, 2007:207).
Begitu juga diterangkan dalam keterangan yang diungkapkan (Kartini
Kartono, 2009:216)PSK diartikan sebagai kurang beradab karena keroyalan relasi
seksualnya dalam bentuk penyerahan diri pada banyak laki-laki untuk pemuasan
seksual dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayanannya. PSK
merupakan peristiwa penjualan diri (persundalan) dengan jalan
memperjualbelikan badan, kehormatan, dan kepribadian kepada banyak orang
untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran.
Pekerja Seks Komersial adalah perempuan yang pekerjaannya menjual diri
kepada siapa saja atau banyak laki – laki yang membutuhkan pemuasnafsu
seksual. Selain itu para PSK adalah perempuan yang melakukanhubungan
seksual dengan banyak laki – laki diluar pernikahan dan sang perempuan
memperoleh imbalan uang dari laki – laki yang menyetubuhinya (Susanti, 2006:
9).
Berdasarkan definisi diatas, pekerja seks komersial adalah perempuan yang
pekerjaannya menjual diri kepada siapa saja atau banyak laki – laki yang
membutuhkan pemuasnafsu seksual dan mendapatkan bayaran atas jasanya.
2. Ciri-ciri Pekerja Seks Komersial
Di desa-desa hampir tidak ada pelacur. Jika ada mereka adalah pendatang-
pendatang dari kota yang singgah untuk beberapa hari atau pulang ke desanya.
Juga perbatasan desa yang dekat dengan kota-kota dan tempat-tempat sepanjang
jalan besar yang dilalui truk-truk ldan kendaraan umum seringdi jadikan lokasilokasi oleh para PSK. Sedang di kota-kota besar, jumlah pelacur diperkirakan 1-
2% dari jumlah penduduknya. (Kartini Kartono, 2009 : 238). Ciri-ciri khas pelacur
ialah sebagai berikut :
a. Wanita lawan pelacur ialah gigolo (pelacur pria, lonte laki-laki).
b. Cantik, ayu rupawan, manis, atraktif menarik, baik wajah maupun
tubuhnya. Bisa merangsang selera seks kaum pria.
c. Masih muda-muda 75% dari jumlah pelacur di kota-kota ada di bawah
usia 30 tahun. Yang terbanyak ialah usia 17-25 tahun
d. Pakaiannya sangat menyolok, beraneka warna, sering anehaneh/eksentrik untuk menarik perhatian kaum pria.
e. Menggunakan teknik-teknik seksual yang mekanistis, cepat, tidak hadir
secara psikis (afwezig, absent minded), tanpa emosi atau afeksi.
f. Bersifat sangat mobile, kerap berpindah dari tempat/kota yang satu
tepat/kota lainnya. Dan biasanya mereka memakai nama samaran dan
sering berganti nama.
g. Pelacur-pelacur professional dari kelas rendah dan menengah
kebanyakan berasal dari strata ekononomi dan strata sosial rendah.
h. 60-80% dari jumlah pelacur ini memiliki intelek yang normal. Kurang
dari 5% adalah mereka yang lemah ingatan (feeble minded).
Selebihnya adalah mereka yang pada garis-batas yang tidak menentu
atau tidak jelas derajat intelegensinya.
Berdasarkan uraian diatas, ciri-ciri pelacur secara garis besar adalah,
berparas cantik dengan penampilan memikat pria, memakai nama samaran,
bersifat sangat mobile / sering berpindah-pindah tempat, berasal dari strata
ekonomi dan strata sosial rendah.
3. Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Perempuan Menjadi Pekerja
Seks Komersial
Banyak faktor yang melatarbelakangi perempuan menjadi seorang Pekerja
Seks Komersial. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang
perempuanmenjadi pekerja seks komersial (PSK) seperti yang disebutkan dalam
(Kartini Kartono, 2009 : 245), antara lain sebagai berikut:
a. Adanya kecendrungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk
menghindarkandiri dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesenangan
melalui jalan pendek. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta
huruf sehingga menghalalkan pelacuran.
b. Ada nafsu-nafsu seks yang abnormal, tidak terintegrasi dalam
kepribadian, dan keroyalan seks. Histeris dan hyperseks, sehingga tidak
merasa puas mengadakan relasi seks dengan satu pria/suami.
c. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan,ada pertimbangan-pertimbangan
ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya
dalam usaha mendapatkan status sosial yang baik.
d. Rasamelitdan ingin tahu gadis-gadis cilik dan anak-anak puber pada
masalah seks, yang kemudian tercebur dalam dunia pelacuran oleh
bujukan-bujukan bandit seks.
e. Ajakan teman-teman sekampung/sekota yang sudah terjun terlebih
dahulu dalam dunia pelacuran.
f. Ada kebutuhan seks yang normal, akan tetapi tidak dipuaskan oleh
pihak suami. Misalnya karena suami impoten, lama menderita sakit,
banyak istri- istri lain sehingga sang suami jarang mendatangi isteri
yang bersangkutan, lama bertugas di tempat yang jauh, dan lain-lain.
Berdasarkan uraian diatas, beberapa faktor yang melatarbelakangi
seseorang menjadi PSK sangat beragam, diantaranya yaitu mendapatkan
kesenangan pribadi, penyaluran nafsu seksual yang berlebih, tekanan ekonomi,
ajakan teman yang sudah terjun lebih dulu ke dunia pelacuran, dan lain
sebagainy