Aspek – aspek Makna Hidup (skripsi dan tesis)

Frankl (Bastaman, 2005:194) mengungkapkan bahwa orang yang
menghayati hidup bermakna menunjukkan kehidupan yang mereka jalani penuh
dengan semangat, optimis, tujuan hidup jelas, kegiatan yang mereka lakukan lebih
terarah dan lebih disadari, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, luwes,
dalam bergerak tetapi tidak terbawa atau kehilangan identitas diri, tabah apabila
dihadapkan pada suatu penderitaan dan menyadari bahwa ada hikmah di balik
penderitaan serta mencintai dan menerima cinta.
Frankl (Bastaman, 2007:41) juga menambahkan tiga aspek dari
kebermaknaan hidup yang saling terkait satu sama lainnya, yaitu :
a. Kebebasan Berkehendak
Kebebasan yang dimaksud tidak bersifat mutlak dan tidak terbatas.
Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk menentukan sikap terhadap
kondisi biologis, psikologis, sosiokultural dan kesejarahannya namun harus di
imbangi dengan tanggung jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan.
Kualitas diatas menunjukkan bahwa manusia adalah individu yang dapat
mengambil jarak dari kondisi dari luar dirinya (sosiokultural dan kesejarahannya)
dan kondisi yang datang dari dalam dirinya (biologis dan psikologis).
b. Kehendak Hidup Bermakna
Kehendak untuk hidup bermakna merupakan keinginan manusia untuk
menjadi orang yang berguna dan berharga bagi dirinya, keluarga, dan lingkungan
sekitarnya yang mampu memotivasi manusia untuk bekerja, berkarya dan
melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya agar hidupnya berharga dan dihayati
secara bermakna, hingga akhirnya akan menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan
dalam menjalani kehidupan.
c. Memaknai Hidup
Memaknai hidup merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar, dan
didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Proses pemaknaan
tidak dapat diberikan oleh siapapun, melainkan harus dicari dan ditemukan
sendiri. Dalam makna hidup terkandung pula tujuan hidup, yaitu hal-hal yang
ingin dicapai dan dipenuhi dalam hidup.
Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dan penjelasan oleh Bastaman
(2007:238) yang memaparkan bahwa hidup bermakna pada dasarnya tidak
berbeda dengan mengembangkan pribadi yaitu mengaktualisasikan potensi diri
dan melakukan transformasi dirikearah kondisi yang lebih baik yang memiliki
beberapa aspek sebagai berikut :
a. Potensi
Setiap manusia memiliki potensi yang luar biasa yaitu berupa potensi
disik, mental, sosial, dan spiritual. Sebagian besar potensi tersebut belum
teraktualisasi. Salah satu khas manusiawi adalah akal (kecerdasan), religiusitas,
dan kemampuan mengubah diri.
b. Asas-asas Sukses
Agar pengembangan hidup bermakna berhasil optimal, selain menyadari
berbagai potensi positif yang ada pada diri dan lingkungan juga perlu dipahami
berbagai aspek kesuksesan yang telah teruji keberhasilannya seperti dicontohkan
oleh mereka yang berhasil dalam kehidupannya.
c. Usaha
Usaha atau kerja keras merupakan syarat penting keberhasilan. Selain
kerja keras diperlukan kerja cerdas, yaitu bekerja menggunakan sistem, metode,
dan sarana yang tepat serta kerja sama dengan orang lain.
d. Metode
Metode dan sistem yang tidak benar akan membuat pekerjaan tidak terarah
dan tujuan sulit dicapai. Kegiatan pengembangan hidup yang
bermakanadiaplikasikan juga pendekatan untuk memperluas kesadaran dan
merangsang berpikir inovatif.
e. Sarana
Sarana mencakup sarana fisik (antara tokoh teladan, masukan-masukan
positif, buku-buku bermanfaat, kelompok yang positif) dan sarana mental (potensi
diri, akal, iman, kemampuan merubah nasib). Sarana-sarana ini khususnya secara
mental yang merupakan anugerah khusus dari Tuhan pada manusia.
f. Lingkungan
Mengembangkan pribadi dan meraih hidup bermakna tidak mudah
sehingga perlu adanya dukungan dari lingkungan dan dukungan sosial, orangorang terdekat, keluarga dan sahabat.
g. Ibadah
Mengambangkan hidup bermakna perlu menyertakan bimbingan Tuhan
melalui ibadah kepada-Nya agar lebih terarah pada tujuan yang baik dan tahan
menghadapi berbagai hambatan.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh ahli tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa aspek makna hidup adalah menjalani hidup dengan optimis,
menghayati makna dalam hidup, memiliki tujuan dan menyadari bahwa hidup
perlu dinikmati berpatokan pada kebebasan berkehendak, kehendak hidup
bermakna, dan memaknai hidup serta mengisinya dengan hal yang membuat hati
bahagia.
Selain aspek yang di jelaskan oleh Bastaman diatas, Joseph B. Fabry
(1980:34) juga menuturkan inti dari ajaran logoterapi sebagai berikut : 1) Hidup
itu bermakna dalam kondisi apapun, 2) Kita memiliki kehendak dan menjadi
bahagia hanya ketika kita merasa telah memenuhinya, 3) Kita memiliki kebebasan
dengan segala keterbatasan untuk memenuhi makna hidup kita. Sedangkan ada
tiga langkah yang dapat dilakukan seseorang untuk mendapatkan makna hidup
menurut Fabry, yaitu :
a. Aktivitas yang Bermakna (Meaningful Activities)
Meskipun Frankl telah membantu seseorang dalam menemukan
kebermaknaan dengan aktivitas kreatif (pekerjaan, kegemaran, atau pengabdian
terhadap tugas), pengalaman (penemuan akan karya seni, kejadian yang alami,
atau keinginan manusia yang bermacam-macam) dan sikap seperti (ketika
seseorang ada dalam kondisi tanpa harapan, kebebasan untuk menyikapi perasaan
pada nasib yang tidak dapat dirubah). Namun yang menjadi masalah pada saat ini
adalah dalam mencari kebermaknaan yang ada dalam pekerjaan itu semakin sulit.
Hal ini dikarenakan semakin sedikitnya pekerjaan yang memberikan aktivitas
bermakna, para pemberi kerja tidak menantang kita untuk bekerja sebagai
layaknya manusia namun memberikan kesempatan hanya sebatas dari bagian dari
mesin (Fabry, 1980:42).
b. Makna akan Pengalaman Pribadi (The Meaning of Personal Experience)
Cara kedua yang dianut dalam logoterapi, kita dapat menemukan
kebermaknaan akan pengalaman dari hal-hal seperti keindahan, kejujuran, atau
cinta. Hal ini dapat dicontohkan apabila kita mendengarkan penampilan yang
sempurna dari sebuah simfoni musik favorit kemudian ada seseorang yang
menanyakan “apakah hidup memiliki arti”, maka tidak ada keraguan lagi atas
jawaban tersebut. Hal ini dicontohkan dengan pecinta alam yang ada di gunung,
seseorang yang religius dalam pelayanan agama, seseorang mahasiswa dalam
kuliah impiannya, seorang seniman di depan maha karyanya, atau seorang
ilmuwan disaat proses penelitian (Fabry, 1980:44-45).
c. Makna dalam Bersikap (The Meaning of Attitudes)
Makna akan aktivitas dan makna akan pengalaman adalah makna yang
mudah dirasakan. Hal ini sulit apabila membandingkan tentang pertentangan
Frankl yang menyebutkan bahwa arti juga dapat ditemukan dalam menyikapi
ketika seseorang menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindari. Dalam
menemukan makna hidup tidak membutuhkan pengalaman akan penderitaan
sebagai sumber maknanya, hal tersebut hanya akan menjadi kebermaknaan
seorang masokis. Seseorang akan lebih mendapatkan makna dari merubah
pandangan dari situasi yang tidak memungkinkan, tidak dengan merubah situasi
namun merubah cara dalam menyikapinya (Fabry, 1980:45-46).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa nilai dan aspek makna
hidup adalah seseorang yang bisa memenuhi dan memaksimalkan semua
kemampuannya dalam memaknai hidup melalui pekerjaan yang di lakukan,
menghayati, dan memberikan kontribusi bagi orang lain dalam bentuk kebaikan.
Selain itu makna hidup juga dapat ditemukan melalui keindahan, kejujuran, dan
cinta. Dan makna hidup juga dapat di temukan pada pemaknaan akan aktivitas
yang kita jalani, apabila seseorang mempunyai masalah di kehidupannya, dia tidak
hanya berdiam diri saja, tetapi bertahan pada situasi yang tidak memungkinkan,
bukan dengan merubah situasi, tetapi bagaimana caranya menyikapi masalahnya
dan menyelesaikannya dengan baik.