Istilah etika seringkali dibandingkan dengan moralitas. Etika dan moralitas sering dipertukarkan atau diberikan pengertian yang sama. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, hanya saja perlu diperhatikan bahwa etika bisa memiliki pengertian yang sangat berbeda dengan moralitas (Nurmatias, 2015). Dengan demikian, etika merupakan penjabaran rasional yang terkandung dalam aturan praktis untuk menunjukkan sesuatu yang baik dan benar.
A.J. Ali dan Owaihan (2008) menerangkan bahwa konsep etika dalam Islam tidak hanya dikaitkan dengan perilaku baik buruk, namun didalamnya juga terkandung dimensi ekonomi, moral, dan sosial. Dimensi ekonomi berhubungan dengan cara pemenuhan kebutuhan hidup yang memperhatikan kaidah etika Islam dalam pemenuhannya. Dimensi moral berkaitan dengan perilaku baik buruk individu dalam mencapai pemenuhan kebutuhannya. Sedangkan dimensi sosial merujuk pada pemenuhan kebutuhan sosial seorang individu dalam berhubungan dengan sesamanya, sehingga tidak merugikan satu sama lain.
Etika dalam Islam juga menganjurkan bagi individu untuk selalu setia terhadap organisasi yang dapat menimbulkan rasa kelayakan diri untuk bergabung dalam organisasi. Lebih lanjut, dengan etika kerja Islam, mereka akan berkomitmen terhadap organisasi (A.J. Ali dan Owaihan, 2008). Individu yang setia terhadap organisasi akan selalu bekerja untuk organisasi. Hal ini sesuai dengan pandangan Islam mengenai orang yang bekerja. Akan tetapi Budiman (2009) menemukan etika kerja Islam tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan KJKS BMT di Kecamatan Rembang
