Ashmos dan Duchon (2000) mendeskripsikan spiritualitas di tempat kerja terkait dalam dua aspek: pengalaman individu dan lingkungan organisasi. Mereka mendefinisikan spiritualitas di tempat kerja muncul karena individu dapat mengekspresikan diri secara pribadi dengan melakukan arti kerja dalam komunitas mereka.
Dalam hal ini, Ashmos dan Duchon (2000) mengembangkan dimensi spiritualitas di tempat kerja menjadi tiga dimensi, yaitu: arti kerja, perasaan menjadi bagian dari komunitas dalam pekerjaan, dan nilai keselarasan. Dimensi arti kerja menunjukkan tingkat perasaan mendalam yang dirasakan oleh seorang individu tentang arti dan tujuan bekerja. Dimensi perasaan menjadi bagian dari komunitas dalam pekerjaan, yaitu bahwa karyawan telah menjadi bagian dari orang lain dan bagian dari komunitas tempat kerja. Adapun dimensi nilai keselarasan adalah perasaan yang kuat yang dirasakan oleh seorang individu tentang bagaimana nilai-nilai pribadi menjadi satu dengan misi dan tujuan organisasi.
Dalam konteks lingkungan kerja, spiritualitas dapat diidentifikasi melalui dua tingkatan menurut Giacalone dan Jurkiewicz (2003), yaitu:
Tingkat individu: tingkat yang mengacu pada seperangkat a. nilai-nilai yang mendorong pengalaman transenden individu melalui proses kerja dengan memfasilitasi perasaan yang terhubung dengan orang lain.
Tingkat organisasi: tingkat ini mengacu pada kerangka b. nilai-nilai budaya organisasi yang mendorong pengalaman transenden karyawan melalui proses kerja dengan memfasilitasi perasaan yang terhubung dengan orang lain.
Orang yang bekerja biasanya mempertimbangkan spiritualitas sebagai alat untuk meningkatkan kesempurnaan, motivasi, dan kepuasan pekerjaan. Agama juga membantu kelangsungan spiritualitas meskipun dapat memisahkan orang dari satu sama lain. Kemampuan spiritualitas untuk mendorong kebiasaan baik dan moral yang merupakan kriteria yang tepat untuk menguji pengaruh spiritualitas dalam bisnis. Banyak manajer yang sukses mewakili spiritualitas dengan cara meningkatkan kebiasaan etis yang menyenangkan bagi mereka (Cavanagh & Banduch, 2002).
Baru-baru ini, kombinasi kehidupan spiritual dan kehidupan organisasi karyawan telah menjadi objek studi organisasi dan ilmu manajemen. Spiritualitas merupakan upaya untuk mendidik orang bagaimana berurusan dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dan makhluk lain selain manusia, serta berhubungan dengan Tuhan, atau untuk mengeksplorasi di jalur yang diperlukan. Spiritualitas memperkuat apa yang orang lakukan dan akan diperkuat oleh mereka pada gilirannya. Dengan meningkatkan perilaku etika dan moral pada individu, spiritualitas menciptakan komitmen seseorang terhadap organisasi, dimana orang tersebut akan mengasimilasikan tujuan dan nilai-nilainya dengan tujuan dan nilai-nilai organisasi.
