Pre anestesi (skripsi dan tesis)

Anestesi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk menghilangkan rasa, baik rasa nyeri, takut dan rasa tidak
nyaman sehingga pasien merasa lebih nyaman. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal selama operasi dan anestesi maka diperlukan tindakan pre
anestesi yang baik. Tindakan pre anestesi tersebut merupakan langkah lanjut
dari hasil evaluasi pre operasi khususnya anestesi untuk mempersiapkan
kondisi pasien, baik psikis maupun fisik pasien agar pasien siap dan optimal
untuk menjalani prosedur anestesi dan diagnostik atau pembedahan yang
akan direncanakan (Mangku, 2010).
Tujuan dari pre anestesi menurut Mangku (2010) adalah :
a. Mengetahui status fisik klien pre operatif
b. Mengetahui dan menganalisa jenis operasi
c. Memilih jenis / teknik anestesi yang sesuai
d. Mengetahui kemungkinan penyulit yang mungkin akan terjadi selama
pembedahan dan atau pasca bedah
e. Mempersiapkan obat / alat guna menanggulangi penyulit yang
dimungkinkan
Pada kasus bedah elektif, evaluasi pre anestesi dilakukan sehari
sebelum pembedahan. Kemudian evaluasi ulang dilakukan di kamar
persiapan instalasi bedah sentral (IBS) untuk menentukan status fisik
berdasarkan ASA (American Society of Anesthesiologist). Pada kasus bedah
darurat, evaluasi dilakukan pada saat itu juga di ruang persiapan operasi
instalasi rawat darurat (IRD), karena waktu yang tersedia untuk evaluasi
sangat terbatas, sehingga sering kali informasi tentang penyakit yang di
derita kurang akurat. Menurut Mangku (2010) persiapan pre anestesi di
rumah sakit meliputi :
a. Persiapan psikologis
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarganya agar mengerti
perihal rencana anestesi dan pembedahan yang dijalankan, sehingga
dengan demikian diharapkan pasien dan keluarga bisa tenang.
2) Berikan obat sedatif pada klien yang mengalami kecemasan
berlebihan atau klien tidak kooperatif misalnya pada klien pediatrik
(kolaborasi).
3) Pemberian obat sedatif dapat dilakukan secara oral pada malam hari
menjelang tidur dan pada pagi hari 60 – 90 menit sebelum operasi,
rektal khusus untuk klien pediatrik pada pagi hari sebelum masuk
IBS (kolaborasi).
b. Persiapan fisik
1) Hentikan kebiasaan seperti merokok, minum – minuman keras dan
obat – obatan tertentu minimal dua minggu sebelum anestesi.
2) Tidak memakai protesis atau aksesoris.
3) Tidak mempergunakan cat kuku atau cat bibir.
4) Program puasa untuk pengosongan lambung, dapat dilakukan sesuai
dengan aturan.
5) Klien dimandikan pagi hari menjelang ke kamar bedah, pakaian
diganti dengan pakaian khusus kamar bedah dan kalau perlu klien
diberi label.
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pasien yang akan dilakukan operasi dan anestesi
adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan atau pengukuran status present : kesadaran, frekuensi
napas, tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat badan dan tinggi badan
untuk menilai status gizi pasien.
2) Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan status :
(a) Psikologis : gelisah, cemas, takut, atau kesakitan
(b) Syaraf (otak, medulla spinalis, dan syaraf tepi)
(c) Respirasi
(d) Hemodinamik
(e) Penyakit darah
(f) Gastrointestinal
(g) Hepato – billier
(h) Urogenital dan saluran kencing
(i) Metabolik dan endokrin
(j) Otot rangka
(k) Integumen
d. Membuat surat persetujuan tindakan medik
Pada klien dewasa dan sadar bisa dibuat sendiri dengan
menandatangani lembaran formulir yang sudah tersedia pada catatan
medik dan disaksikan kepala ruangan tempat klien dirawat, sedangkan
pada klien bayi / anak – anak / orangtua atau klien tidak sadar
ditandatangani oleh salah satu keluarganya yang bertanggung jawab dan
juga disaksikan oleh kepala ruangan.
e. Persiapan lain yang bersifat khusus pre anestesi
Apabila dipandang perlu dapat dilakukan koreksi terhadap kelainan
sistemik yang dijumpai pada saat evaluasi pre anestesi misalnya :
transfusi, dialisa, fisioterapi, dan lainnya sesuai dengan prosedur tetap
tatalaksana masing – masing penyakit yang diderita klien