Menurut Taher (2007) walaupun masalah infertilitas tidak berpengaruh pada
aktivitas fisik sehari-hari dan tidak mengancam jiwa, bagi banyak pasangan hal ini
berdampak besar terhadap kehidupan berkeluarga. Selain itu menurut Taher
(2007) pasangan yang mengalami infertilitas akan memiliki tekanan secara
psikologis, dimana mereka akan merasa bingung memikirkan bagaimana cara
untuk mendapatkan keturunan.
Melihat kenyataan di atas, tampaklah bahwa kehadiran anak tersebut sedikit
banyak dapat mempengaruhi kehidupan pernikahan pasangan. Pihak isteri
kerapkali mendapatkan stigmatisasi apabila dalam suatu pernikahan belum juga
dikaruniai anak Kartono (1992). Hal ini terlihat bahwa isteri seringkali merupakan
pihak yang pertama kali dan seringkali disuruh untuk memeriksakan diri ke
dokter.
Walaupun pasangan suami-istri dianggap infertil, bukan tidak mungkin
kondisi infertil sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri saja.
Oleh karena itu, seorang suami tidak bisa hanya menyalahkan istri ketika
permasalahan infertilitas ini dialami. Hal tersebut dapat dipahami karena proses
pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya seorang manusia harus
merupakan kerjasama antara suami dan istri.
Menurut Taher (2007) pasangan yang mengalami infertilitas akan memiliki
tekanan secara psikologis, dimana mereka akan merasa bingung memikirkan
bagaimana cara untuk mendapatkan keturunan. Menurut Sugiharto (2007) faktor
penyebab infertilitas ada 5 yaitu :
a) Usia. Untuk pria puncak kesuburan adalah usia 24-25 tahun dan 21-24
tahun untuk wanita, sebelum usia tersebut kesuburan belum benar matang
dan setelahnya berangsur menurun.
b) Frekuensi hubungan seksual. Misalnya pasangan yang suaminya bekerja
sebagai pelaut dan berlayar selama berbulan-bulan, belum dapat dikatakan
infertilitas bila istrinya tidak hamil dalam kurun waktu 1 tahun.
c) Lingkungan. Baik fisik, maupun biologis ( panas, radiasi, rokok, narkotik,
alkohol, infeksi dan sebagainya).
d) Gizi dan nutrisi. Kekurangan protein dan vitamin tertentu dapat
menyebabkan sulitnya mendapatkan keturunan.
e) Stress psikis. Mengganggu siklus haid, menurunkan libido dan kualitas
spermatozoa.
