Le Poidevin (dalam Cliteur, 2009) mengatakan bahwa Ateis adalah orang
yang menolak keberadaan pencipta semesta, bukan semata-mata hanya hidup
tanpa mengacu pada pencipta tetapi juga memilik kesadaran dan posisi yang
tegas. Mereka mengangap bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah irasional
sehingga harus ditolak. Sesorang yang memiliki ketiadaan belief teistik yang
disebabkan oleh adanya kesadaran untuk menolak hal tersebut yang dilakukan
dengan sengaja diistilahkan sebagai Ateis eksplisit oleh Smith (2003). Gora
(1979) menyatakan bahwa Ateis menganut paham Ateisme yang mengutamakan
kebebasan individu, meamahami realita dengan membedakan iman dan
kenyataan. Ateis menggunakan imajinasi dengan bebas untuk mendapatkan
pengetahuan tidak langsung, membentuk opini, memformulasi teori, tetapi tetap
membuka pikiran seluas-luasnya. Berdasarkan pengertian tersebut, seorang Ateis
mengenal adanya kepercayaan terhadap Tuhan, namun mereka memilih untuk
tidak percaya, tidak hidup berdasarkan Tuhan karena memilih menggunakan akal mereka.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan sebelumnya,
Ateis adalah individu yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan dalam
bentuk apapun sehingga memahami realita berdasarkan akal mereka, melalui
kenyataan yang terjadi,bukan berdasarkan iman pada Tuhan dalam bentuk apapun.
