Konstruk yang dideskripsikan sebagai “Locus of control” pertama-tama
muncul dengan terpublikasinya sebuah monograf oleh Rotter. Dalam publikasi
ini, Rotter mengemukakan skala yang ia kembangkan untuk menilai/menaksir
harapan umum individu akan kontrol penguatan internal versus eksternal atas
penguatan (Anastasi, 2007:449).
Pusat kendali adalah gambaran pada keyakinan seseorang mengenai
sumber penentu perilakunya. Pusat kendali merupakan salah satu faktor yang
sangat menentukan perilaku individu (Ghufron & Risnawita S, 2011:65).
Konsep mengenai pusat kendali ini berasal dari teori konsep diri Julian
Rotter atas dasar teori belajar sosial yang memberikan gambaran pada keyakinan
seseorang mengenai sumber penentu perilakunya. Menurut Lindzey dan Aronso
menyebutkan tiga istilah utama yang digunakan Rotter dalam teori belajar sosial
yaitu perilaku potensial, harapan, dan nilai penguat. Hubungan antara ketiga
istilah tersebut sebagai berikut, perilaku potensial dalam situasi tertentu adalah
tergantung pada harapan individu mengenai penguat yang akan mengiringi
perilaku itu dan nilai yang dimilikinya. Pusat kendali adalah konsep yang secara
khusus berhubungan dengan harapan individu mengenai kemampuannya untuk
mengendalikan penguat tersebut (dalam Ghufron & Risnawita S, 2011:65-66).
Sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter yang menyatakan bahwa setiap
orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar kontrol diri mereka terhadap
perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan (Dayakisni &
Yuniardi, 2008:63).
Konsep “letak kendali” dikembangkan Rotter dari teori pembelajaran
sosial yang mendudukkan penguat (reinforcement) pada suatu posisi inti.
Diyakini, sejarah belajar seorang individu dapat menggiringnya ke pengharapan
yang terampatkan (generalized) tentang penguatan. Orang dapat memandang
suatu imbalan (reward, positif maupun negatif) sebagai hal yang tergantung pada
perilakunya sendiri atau tergantung pada kekuatan-kekuatan di luar kendalinya
(Berry, dkk. 1999:142).
Levenson menyatakan locus of control adalah keyakinan individu
mengenai sumber penyebab dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam
hidupnya. Seseorang juga dapat memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatur
kehidupannya, atau justru orang lainlah yang mengatur kehidupannya, bisa juga ia
berkeyakinan faktor, nasib, keberuntungan, atau kesempatan yang mempunyai
pengaruh besar dalam kehidupannya (dikutip Kresnawan, 2010:14).
Kata lain, letak kendali dapat dianggap internal atau eksternal untuk diri
seseorang. Keberhasilan dan kegagalan dalam hidup dapat disebabkan oleh
“keterampilan” atau “nasib kebetulan”. Banyak peristiwa dalam sejarah lehidupan
perseorangan dapat diatas-namakan sebagai tanggung jawab pribadi atau hal yang
di luar kendali (Berry, dkk. 1999:143).
