Empowerment (pemberdayaan) sebagai konsep dan penggunaannya dalam
praktek manajemen sebenarnya telah berkembang cukup lama. Konsep ini sebagai
tantangan akan praktek manajemen sebelumnya dimana pimpinan dalam organisasi
mempunyai lebih banyak peran dalam proses pengambilan keputusan. Esensi dari
empower itu sendiri sebenarnya membentuk suatu “keinginan” mental positif dalam
praktek manajemen. Fokusnya sebagai pemberi semangat, bukan sebagai
pengontrol, melainkan penyeimbang dalam pencapaian tujuan individu dan
organisasi. Konsep empowerment menajdi penting karena konsep inilah yang
menjadi kunci dari sejumlah konsep-konsep kreatif yang muncul misalnya self-
managed team dan total quality management. Namun dalam kenyataannya, proses
pelaksanaan empowerment masih tidak berlangsung sperti yang diharapkan.
Sebagai contoh, dalam organisasi masih ada pimpinan yang mengambil keputusan
tanpa melibatkan bawahannya atau bawahan tidak diberikan kebebasan dalam
pembuatan pengaturan jadwal dan prosedur, serta dalam memecahkan masalah
tugas sehari-hari seperti yang tercermin dalam praktek manajemen lama.
Menurut (Priyono dan Pranaka, dalam penelitian A.A Ngurah Yoga Indra
Prataam et al, 2020:181) pengertian empowerment sejatinya mengandung dua arti,
yang pertama empowerment memiliki peran sebagai memberi atas kekuasaan atau
mampu mengalihkan ke pihak lainnya. Sedangkan kedua dapat dipahami jika arti
empowerment adalah suatu upaya untuk memberikan keberdayaan dan kemampuan
kepada pihak lain.
Psychological dalam suatu organisasi adalah suatu bagian dari aspek
psikogis postif yang dimiliki oleh individu yang berfungsi untuk meningkatkan
motivasi, efikasi diri, optimisme, harapan, dan resiliensi yang berorientasi pada
keberhasilan dan kesuksesan disuatu organisasi atau tempat kerja. Psychological
yang dimiliki individu ditandai dengan adanya kepercayaan diri, rasa gembira, dan
pengharapan yang positif tentang masa depan serta kemampuan untuk menghadapi
masalah yang terjadi.
Psychological erat kaitannya dengan kesehatan mental, ada beberapa alasan
mengapa kesehatan mental menjadi issue penting dalam dunia kerja. (Danna dan
Griffin, dalam penelitian Rahamat Aziz, Esa Nur Wahyuni et al, 2017:34)
menyatakan alasan pentingnya kesehatan mental di tempat kerja, yaitu pengalam
individu baik fisik, emosional, mental, atau sosial akan mempengaruhi bagaimana
individu ditempat kerja. Kesehatan mental pekerja menjadi bagian penting karena
akan menumbuhkan kesadaran terhadap faktor-faktor lain yang menimbulkan
resiko bagi pekerja. Misalkan, karakteristik tempat kerja yang mendukung
keamanan dan kesejahteraan bagi pekerja, potensi ancaman kekerasaan atau agresi
ditempat kerja (kekerasaan seksual dan bentuk-bentuk perilaku disfungsional
lainnya), bahkan hubungan antara pimpinan dan bawahan yang berimplikasi pada
kesehatan mental. Oleh karena itu kesehatan mental menjadi dari bagian penting
karena kesehatan yang rendah akan mempengaruhi kinerja
