Salah satu pendekatan yang paling dirujuk secara luas untuk menganalisis
variasi di antara budaya dilakukan di akhir 1970-an (24). Hofstede menyurvei lebih
dari 116.000 pekerja IBM di 40 negara mengenai nilai-nilai terkait pekerjaan
mereka dan mendapati bahwa manajer dan pekerja beragam dalam lima dimensi
nilai dari budaya nasional:
1) Jarak kekuasaan. Jarak kekuasaan menjelaskan tingkat di mana orang-
orang dalam suatu negara menerima bahwa kekuasaan dalam institusi dan
organisasi menyebar tidak merata. Peringkat yang tinggi dalam jarak
kekuasaan berarti bahwa ketidaksamaan yang besar atas kekuasaan dan
kekayaan ada dan ditoleransi dalam budaya, sebagaimana dalam sebuah
sistem kelas atau kasta yang menahan mobilitas ke atas. Peringkat jarak
kekuasaan yang rendah mengarakteristikkan masyarakat yang menekankan
kesamaan dan peluang.
2) Individualisme versus kolektivisme. Individualisme adalah tingkat di
mana orang- orang lebih memilih untuk bertindak sebagai individu
dibandingkan sebagai anggota kelompok dan mempercayai hak-hak
individu di atas segalanya. Kolektivisme menekankan kerangka sosial yang
ketat di mana orang-orang mengharapkan yang lain dalam kelompok yang
menjadi bagiannya untuk merawat dan melindungi mereka.
3) Maskulinitas versus femininitas. Konsep maskulinitas Hofstede adalah
tingkat di mana budaya menyukai peran-peran maskulin tradisional seperti
pencapaian, kekuasaan, dan kendali, berlawanan dengan pandangan pria
dan wanita adalah sama. Peringkat maskulinitas yang tinggi
mengindikasikan budaya telah memisahkan peran bagi pria dan wanita,
dengan pria mendominasi masyarakat. Peringkat femininitas tinggi berarti
budaya melihat sedikit perbedaan antara peran pria dan wanita dan
memperlakukan wanita sama dengan pria dalam segala hal.
4) Penghindaran Ketidakpastian. Tingkat di mana orang-orang dalam suatu
negara lebih memilih situasi yang terstruktur atau tidak terstruktur
menentukan penghindaran ketidakpastian mereka. Dalam budaya dengan
skor penghindaran ketidakpastian yang tinggi, orang-orang memiliki tingkat
kecemasan yang tinggi mengenai ketidakpastian dan ambiguita dan
menggunakan hukum dan kontrol untuk mengurangi ketidakpastian. Orang-
orang dalam budaya dengan penghindaran ketidakpastian yang rendah lebih
menerima ambiguitas, kurang berorientasi pada peraturan, mengambil lebih
banyak risiko, dan lebih siap menerima perubahan.
5) Orientasi jangka panjang versus jangka pendek. Tambahan terbaru pada
tipologi Hofstede mengukur kesetiaan masyarakat pada nilai-nilai
tradisional. Orang-orang dalam budaya dengan orientasi jangka panjang
melihat masa depan dan menghargai kebijaksanaan, persistensi, serta
tradisi. Dalam orientasi jangka pendek, orang- orang menilai di sini dan saat
ini; mereka lebih siap menerima perubahan dan tidak melihat komitmen
sebagai rintangan untuk berubah
