Budaya Organisasi


Istilah budaya berasal dari bahasa sansakerta buddhaya sebagai
bentuk jamak dari buddhi yang berarti akal, menekankan kepada
aspek kolektif, bahwa budaya adalah hasil kerja dari sejumlah akal dan
bukan hanya satu akal individual saja. Didalamnya mencakup tiga
unsur yakni cipta, rasa dan karsa bermakna pikiran, perasaan dan
keinginan/kehendak sementara culture berasal dari bahasa latin
cultura yang berarti merawat atau perawatan. Istilah ini merujuk pada
aktivitas petani atau peternak dalam merawat tanaman atau hewan
peliharaannya sedemikian rupa sehingga tumbuh subur dan
berkembang biak dengan baik. Budaya dan culture adalah semakna
tapi sedikit berbeda bahwa culture mengacu secara eksplisit pada
aspek pengolahan akal budi manusia terhadap dirinya maupun alam,
sementara budaya lebih dikhusukan pada manusia (Kusdi, 2011:10-
11).
Budaya selalu bersifat sosial dalam arti penerusan tradisi
sekelompok manusia yang dari segi materialnya dialihkan secara
historis dan diserap oleh generasi-generasi menurut “nilai” yang
berlaku. Nilai di sini adalah ukuran-ukuran yang tertinggi bagi
perilaku manusia. Slocum (1995) dalam West (2010:128)
mendefinisikan budaya sebagai asumsi-asumsi dan pola-pola
makna yang mendasar, yang dianggap sudah selayaknya dianut
dan dimanifestasikan oleh semua pihak yang berpartisipasi dalam
organisasi. Budaya diartikan juga sebagai seperangkat perilaku,
perasaan dan kerangka psikologis yang terinternalisasi sangat
mendalam dan dimiliki bersama oleh anggota organisasi (Osborn dan
Plastrik, 2000:252). Sehingga untuk merubah sebuah budaya
harus pula merubah paradigma orang yang telah melekat. Pada
bagian lain Sofo (2003:384) memandang budaya sebagai sesuatu
yang mengacu pada nilai-nilai, keyakinan, praktek, ritual dan
kebiasaan- kebiasaan dari sebuah organisasi dan membantu
membentuk perilaku dan menyesuaikan persepsi.
Pentingnya budaya dalam mendukung keberhasilan satuan kerja
menurut Newstrom dan Davis (2004:132) budaya memberikan
identitas pegawainya, budaya juga sebagai sumber stabilitas serta
kontinyuitas organisasi yang memberikan rasa aman bagi
pegawainya, dan yang lebih penting adalah budaya membantu
merangsang pegawai untuk antusias akan tugasnya. Sedangkan
tujuan fundamental budaya adalah untuk membangun sumber daya
tmanusia seutuhnya agar setiap orang sadar bahwa mereka berada
dalam suatu hubungan sifat peran sebagai pelanggan pemasok
dalam komunikasi dengan orang lain secara efektif dan efisien serta
menggembirakan (Triguno, 2004: 6).
Budaya organisasi adalah suatu sistem berbagi arti yang
dilakukan oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari
organisasi lainnya. (Robbins, 2015:355). Pendapat Sedarmayanti
dalam Samsuddin (2018:56) bahwa budaya organisasi adalah sebuah
keyakinan, sikap dan nilai yang umumnya dimiliki, yang timbul dalam
organisasi. Edgar H. Schein yang dikutip oleh Moh. Pabundu Tika
(2014:3) mendefinisikan budaya dalam bukunya budaya organisasi
dan kinerja perusahaan sebagai berikut:
“Budaya adalah suatu pola asumsi dasar yang diciptakan,
ditemukan atau dikembangkan oleh kelompok tertentu sebagai
pembelajaran untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan
integrasi internal yang resmi dan terlaksana dengan baik dan
oleh karena itu diajarkan/diwariskan kepada anggota-anggota
baru sebagai cara yang tepat memahami, memikirkan, dan
merasakan terkait dengan masalah-masalah tersebut”
Sedangkan menurut Miller (2009), organizational culture is a
group of values practiced by company management in managing and
organizing their companies in order to achieve their goals dengan arti
bahwa budaya organisasi adalah sekelompok nilai yang dipraktikkan
oleh manajemen perusahaan dalam mengelola dan mengatur
perusahaan mereka untuk mencapai tujuan mereka. Sesuai dengan
definisi dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya
organisasi merupakan suatu nilai, norma, sikap, dan peraturan yang
menjadi pembeda dari organisasi yang lain untuk membatasi kegiatan
kerja dalam mencapai tujuan organisasi.
Budaya akan mempengaruhi sejauh mana dan seperti apa
anggota organisasi berasumsi, bersikap, dan mengartikan suatu nilai
dalam mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian, budaya
organisasi menjadi faktor yang berpengaruh dalam membentuk dan
memberi arti kepada anggota organisasi untuk bertindak dan
berperilaku. Budaya yang baik akan mempengaruhi kinerja karyawan
dalam menjalankan dan mengerjakan tugas-tugasnya lebih baik.
Seperti yang disimpulkan dari penelitian sebelumnya yang telah
dilakukan oleh Susanti dkk (2020) pada jurnal penelitian ilmiahnya,
bahwa budaya organisasi berpengaruh secara positif adalah faktor
penting yang dapat menjelaskan variasi kinerja karyawan. Nilai-nilai
budaya yang diyakini bersama dapat menjadi pengikat organisasi
dengan karyawan. Dengan demikian, ikatan kuat tersebut dapat
menimbulkan motivasi karyawan untuk meningkatkan kinerja
karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan secara maksimal