Sumber daya manusia adalah hal teramat penting karena sumber
daya manusia merupakan kumpulan sekelompok orang – orang yang
bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu apa pun bentuk serta
tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk
kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan
diurus oleh manusia. Jadi manusia merupakan faktor strategis dalam
semua kegiatan organisasi.
Budaya organisasi adalah nilai – nilai yang dirasakan bersama
oleh anggota organisasi yang diwujudkan dalam bentuk sikap perilaku
pada organisasi atau unit kerja. Definisi budaya organisasi yang
dikemukakan Edgar Schein dalam Sobirin (2017:837), “budaya
merupakan pola asumsi dasar yang di bagikan oleh sekelompok orang
setelah sebelumnya mereka mempelajari dan meyakini kebenaran pola
asumsi tersebut sebagai cara untuk menyelesaikan bebagai persoalan
yang berkaitan dengan adaptasi eksternal dan integrasi internal sehingga
pola asumsi dasar tersebut perlu diajarkan kepada anggota – anggota
baru sebagai cara yang benar untuk berpersepsi, berpikir dan
mengungkapkan perasaannya dalam kaitannya dengan persoalan –
persoalan organisasi.”
Namun sebelum benar – benar bisa memberi gambaran tentang
jati diri dari budaya sebuah organisasi, sistem makna harus secara
terbuka dan kolektif diterima dan menjadi pedoman, ketentuan atau
referensi bagi semua orang atau paling tidak sebagian besar orang yang
terlibat dengan sebuah organisasi. Persyaratan ini perlu ditegaskan
mengingat proses pemaknaan (interpretasi) terhadap fenomena,
kejadian atau kegiatan organisasi kadang – kadang bersifat subyektif.
Robbins dalam Sinambela (2019:551) mengemukakan bahwa
“budaya organisasi memiliki peran atau fungsi dalam organisasi” antara
lain :
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi
dan yang lain;
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota – anggota
organisasi;
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada suatu yang lebih
luas daripada kepentingan diri individual seseorang;
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan
organisasi itu dengan memberikan standar – standar yang tepat
untuk dilakukan oleh pegawai;
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang
membentuk sikap serta perilaku pegawai.
Soekanto dalam Busro (2018:1) mengemukakan bahwa,
“kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.”
Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma
sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur sosial, religius dan
lain – lain. Hardjito dalam Busro (2018:3) mendefinisikan “organisasi
sebagai kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar yang
memungkinkan anggota mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai
melalui tindakan individu secara terpisah.” Terminologi yang
dipergunakan para ahli untuk menunjukan karakteristik budaya
organisasi sangat bervariasi. Hal tersebut menunjukan beragamnya sifat
ciri, sifat dan elemen yang terdapat dalam budaya organisasi. Budaya
organisasi adalah pokok penyelesaian berbagai masalah eksternal dan
internal yang pelaksanaannya dilakukan secara konsisten oleh suatu
kelompok yang kemudian mewariskan kepada anggota – anggota baru
sebagai cara yang tepat untuk memahami, memikirkan, dan merasakan
terhadap berbagai masalah terkait seperti diatas.
Zhang dan Jia dalam Sinambela (2018:555) mengemukakan
bahwa “budaya organisasi sebagai suatu konsep dapat menjadi suatu
sarana untuk mengukur kesesuaian dari tujuan organisasi, strategi dan
organisasi tugas serta dampak yang dihasilkan.” Dengan tanpa ukuran
yang valid dan reliabel dari aspek kritis budaya organisasi, maka
pernyataan tentang dampak budaya pada kinerja akan terus berdasarkan
pada spekulasi dan studi kasus
