Terdapat hasil yang menunjukkan job insecurity berpengaruh positif
terhadap turnover intention(Ismail, 2015) dan ada pula yang mendapatkan
hasil job insecurity tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap turnover
intention (Wening, 2005). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya, pekerja outsourcing memang cenderung mengalami job
insecurity dalam menjalankan pekerjaannya. Suhartono (Wardani, Sutrisno, &
Pramono, 2014) menyebutkan faktor penyebab terjadinya job insecurity antara
lain: kondisi pekerjaan, konflik peran, pengembangan karir, dan pusat
pengendalian. Semua ini tergantung dari psikologis masing-masing individu
atau pekerja sendiri, faktor apa yang menurutnya dapat mempengaruhi
timbulnya job insecurity.
Secara umum, pekerja outsourcing memiliki perbedaan dalam hal
penerimaan hak apabila dibandingkan dengan pekerja tetap atau kontrak.
Contohnya seperti gaji yang lebih rendah, dan tidak diikut sertakan dalam
jaminan sosial tenaga kerja. Akan tetapi semuanya itu juga tergantung dari
perjanjian kontrak yang dilakukan antar kedua pihak (perusahaan alih daya
dan perusahaan pengguna).
Turnover intention atau keinginan keluar dari tempat kerja dapat terjadi
karena beberapa hal, mulai dari usia, kepuasan kerja, budaya perusahaan, lama
kerja, tingkat pendidikan, dan keterikatan dengan perusahaan (Novliadi,
2007). Menurut penelitian dari Wardani, Sutrisno, & Pramono (2014), job
insecurity memiliki pengaruh terhadap turnover intention pada karyawan.
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh job insecurity yang terdiri dari
kondisi pekerjaan, konflik peran, pengembangan karir dan pusat pengendalian
secara bersama-sama terhadap turnoverintention karyawan pada CV Putra
Makmur Abadi Temanggung Jawa Tengah.
Selain itu, penelitian yang telah dilakukan oleh Ismail (2015) mendapatkan
kesimpulan hasil bahwa job insecurity berpengaruh secara signifikan terhadap
keinginan karyawan untuk keluar dari pekerjaannya. Penelitian tersebut secara
konsisten sesuai dengan hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa job insecurity dapat memprediksi terjadinya turnover
intention pada karyawan. Menurut penjelasan dari penelitian sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa job insecurity atau ketidakamanan dalam bekerja
memiliki hubungan dengan variabel turnover intention secara signifikan
