Menurut Lista (2018) terdapat tiga jenis dimensi konflik pekerjaan
keluarga. Pertama adalah time-based conflict, Waktu yang dihabiskan untuk
kegiatan dalam satu peran tidak dapat digunakan untuk kegiatan dalam peran lain.
Selanjutnya adalah strainbased conflict, bentuk kedua konflik pekerjaan keluarga
ini melibatkan ketegangan peran. Strain-based conflict terjadi pada saat tekanan
dari salah satu peran (keluarga atau pekerjaan) mempengaruhi kinerja peran yang
lainnya (pekerjaan atau keluarga). Ketiga adalah behavior-based conflict, pola
perilaku dalam peran tertentu mungkin tidak sesuai dengan harapan mengenai
perilaku dalam peran lain. Behavior-based conflict berhubungan dengan
ketidaksesuaian antara pola perilaku dengan yang diinginkan oleh kedua bagian
peran (pekerjaan atau keluarga).
Muh Arifin (2019) mengatakan bahwa Konflik Kerja-keluarga terdiri dari
tiga bentuk, yaitu time-based conflict, strain- based conflict, dan behavior-based
conflit.
- Time-based conflict, berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan individu untuk
menjalankan salah satu peran yang dapat mengurangi waktu untuk menjalankan
peran lainnya. Misalnya, seorang pekerja yang harus lembur untuk
menyelesaikan tugas kantor, sehingga waktu untuk berperan sebagai seorang
bapak dalam mendidik anak-anak di rumah menjadi kurang. - Strain-based conflict, berdasarkan dengan tekanan dari salah satu peran yang
dapat mengganggu kinerja peran lainnya, sehingga individu mengalami
ketegangan, kecemasan, kelelahan, depresi, lesu dan mudah marah. Misalnya,
individu yang berperan sebagai seorang bapak, memiliki tekanan untuk
mendidik anggota keluarga, dan bersosialisasi di masyarakat, berbagai tekanan
tersebut menyebabkan individu yang bersangkutan merasamudah marah pada
saat melaksanakan tugas dan kewajiban di tempat kerja. - Behavior-based conflict, berkaitan dengan ketidaksesuaian pola perilaku
individu dengan peran yang diinginkan oleh salah satu pihak (pekerjaan atau
keluarga). Misalnya, seorang wanita yang bekerja sebagai satuan pengaman
(satpam) harus memiliki perilaku yang sama dengan kaum pria (tegas), tetapi
pihak keluarga menginginkan perilaku wanita tersebut tetap bisa sesuai dengan
kodratnya sebagai wanita (lembut)
