Dampak Turnover Intention


Turnover intention dapat memberikan berbagai macam
dampak baik kepada perusahaan maupun karyawan. Mobley et al.,
(1979) menyatakan beberapa dampak yang disebabkan oleh
turnover intention yaitu :
1) Beban kerja
Ketika tingkat turnover intention pada perusahaan
tinggi, maka beban kerja pada karyawan pada perusahaan
tersebut juga bertambah dikarenakan jumlah karyawan pada
karyawan dalam perusahaan tersebut berkurang.
2) Biaya penarikan karyawan
Perusahaan membutuhkan biaya penarikan karyawan
yang baru yang tinggi jika angka turnover intention pada
perusahaan tersebut tinggi. Tidak hanya biaya saja yang
dibutuhkan dalam perusahaan untuk menarik karyawan
baru, tetapi hal tersebut juga dapat menyita waktu serta
fasilitas dalam proses seleksi dalam manarik karyawan baru
serta mempelajari pergantian karyawan yang mengundurkan
diri.
3) Biaya latihan
Bila tingkat turnover intention tinggi pada sebuah
perusahaan maka hal tersebut akan berdampak pada
meningkatnya biaya pelatihan yang digunakan untuk
melatih karyawan baru, hal tersebut bertujuan untuk
menjaga kualitas karyawan yang akan berdampak pada
kualitas perusahaan.
4) Adanya produksi yang hilang selama masa pergantian
karyawan.
Ketika angka turnover intention pada perusahaan
tinggi, jumlah karyawan yang ada juga akan berkurang,
sehingga hal tersebut akan mempengaruhi menurunnya
jumlah produksi atau pencapaian penjualan yang telah
ditargetkan oleh perusahaan. Terlebih lagi yang
meninggalkan perusahaan adalah karyawan yang memiliki
kualitas yang baik.
5) Banyak pemborosan karena adanya karyawan baru
Tingginya tingkat turnover intention dalam sebuah
perusahaan membuat perusahaan mengeluarkan banyak
biaya yang seharusnya dapat dicegah jika perusahaan dapat
mengelola sumber daya manusianya dengan baik yang dapat
membuat karyawan tetap di perusahaan tersebut tetap
bertahan.
6) Memicu stres karyawan
Karyawan yang masih bertahan dalam perusahaan
tersebut juga terkena dampak dari turnover intention,
karyawan tersebut harus beradaptasi dengan karyawan baru
dimana hal tersebut dapat memicu stres kerja yang dirasakan
oleh karyawan lama. Apabila hal tersebut terus berlangsung
maka akan mengakibatkan keinginan keluar karyawan dari
perusahaan