Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kualitas Pelayanan


Kualitas Kualitas Pelayanan merupakan faktor yang sangat penting
khususnya bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Aplikasi kualitas
Kualitas Pelayanan sebagai sifat dari penampilan produk atau kinerja merupakan
bagian dari strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang
berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar maupun strategi untuk terus
tumbuh. Faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan menurut Fandy
Tjiptono (2015:178), faktor penyebab buruknya kualitas Kualitas Pelayanan
adalah sebagai berikut :

  1. Produksi dan konsumsi yang terjadi secara simultan salah satu karakteristik
    unik jasa atau layanan adalah inseparability (tidak dapat dipisahkan), artinya
    jasa diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Hal ini kerapkali
    membutuhkan kehadiran dan partisipasi pelanggan dalam proses penyampaian
    jasa. Konsekuensinya, berbagai macam persoalan sehubungan dengan interaksi
    antara penyedia layanan dan pelanggan bisa saja terjadi. Beberapa kelemahan
    yang mungkin ada pada karyawan jasa dan mungkin berdampak negatif
    terhadap persepsi kualitas meliputi :
    a. Tidak terampil dalam melayani pelanggan;
    b. Cara berpakaian karyawan yang kurang sesuai konteks;
    c. Tutur kata karyawan kurang sopan;
    d. Bau badan karyawan mengganggu kenyamanan pelanggan;
    e. Mimik muka karyawan selalu cemberut.
  2. Intensitas tenaga kerja yang tinggi keterlibatan karyawan secara insentif dalam
    penyampaian layanan dapat pula menimbulkan masalah kualitas yaitu berupa
    tingginya variabilitas yang dihasilkan. Faktor-faktor yang biasa
    mempengaruhinya antara lain :
    a. Upah rendah (umumnya karyawan yang melayani atau berinteraksi langsung
    dengan pelanggan memiliki tingkat pendidikan dan upah yang paling rendah
    dalam suatu perusahaan);
    b. Pelatihan yang kurang memadai atau bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan
    organisasi;
    c. Tingkat perputaran karyawan terlalu tinggi;
    d. Motivasi kerja karyawan rendah.
  3. Dukungan terhadap pelanggan internal kurang memadai Karyawan front line
    merupakan ujung tombak sistem penyampaian layanan. Dalam banyak kasus,
    keramahan dan kesopanan operator telepon dan satpam bisa jadi memberikan
    kesan pertama bagi calon pelanggan yang ingin berhubungan dengan sebuah
    perusahaan penyedia jasa. Agar para karyawan front line mampu melayani
    pelanggan secara efektif, mereka membutuhkan dukungan dari fungsi-fungsi
    utama manajemen (operasi, pemasaran, keuangan, dan SDM). Dukungan
    tersebut bisa juga berupa peralatan (perkakas, material, pakaian, seragam),
    pelatihan keterampilan maupun informasi (misalnya, prosedur operasi).
  4. Gap komunikasi, bila terjadi gap komunikasi, maka bisa timbul penilaian atau
    persepsi negatif terhadap kualitas layanan. Gap-gap komunikasi bisa berupa :
    a. Penyedia layanan memberikan janji berlebihan, sehingga tidak mampu
    memenuhinya.
    b. Penyedia layanan tidak bisa selalu menyajikan informasi terbaru kepada
    para pelanggan.
    c. Pesan komunikasi penyedia layanan tidak dipahami pelanggan.
    d. Penyedia layanan tidak memperhatikan atau tidak segera menindaklanjuti
    keluhan atau saran pelanggan.
  5. Memperlakukan semua pelanggan dengan cara yang sama dalam hal interaksi
    dengan penyedia layanan, tidak semua pelanggan bersedia menerima layanan
    yang seragam, sering terjadi ada pelanggan yang menginginkan atau bahkan
    menuntut layanan yang sifatnya personal dan berbeda dengan pelanggan lain.
    Hal ini memunculkan tantangan bagi penyedia layanan dalam hal individual
    dan memahami perasaan pelanggan terhadap penyedia layanan dan layanan
    spesifik yang mereka terima.
  6. Perluasan atau pengembangan layanan secara berlebihan bila terlampau banyak
    layanan baru dan tambahan terhadap layanan yang sudah ada, hasil yang
    didapatkan belum tentu optimal, bahkan tidak tertutup kemungkinan timbul
    masalah-masalah seputar standar kualitas layanan. Selain itu, pelanggan juga
    bisa bingung membedakan variasi penawaran layanan baik dari segi fitur,
    keunggulan maupun tingkat kualitasnya.
  7. Visi bisnis jangka pendek (misalnya orientasi pencapaian target penjualan dan
    laba tahunan, penghematan biaya sebesar-besarnya, peningkatan produktivitas
    tahunan, dll) bisa merusak kualitas layanan yang sedang dibentuk untuk jangka
    panjang. Sedangkan Christian Gronroos dalam Rolando (2018:56)
    mengemukakan bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi kualitas Kualitas
    Pelayanan yaitu: 1. Menjaga dan memperhatikan, bahwa pelanggan akan
    merasakan kepuasan Kualitas Pelayanan karyawan dan sistem operasional yang
    ada dapat menyelesaikan problem mereka. 2. Spontanitas, dimana karyawan
    menunjukan keinganan untuk menyelesaikan masalah pelanggan. 3.
    Penyelesaian masalah, karyawan yang berhubungan langsung dengan
    pelanggan harus memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas berdasarkan
    standar yang ada, termasuk pelatihan yang diberikan untuk dapat memberikan
    Kualitas Pelayanan yang lebih baik. 4. Perbaikan, apabila terjadi hal-hal yang
    tidak diinginkan harus mempunyai personil yang dapat menyiapkan usaha-
    usaha khusus untuk dapat mengatasi kondisi tersebut