COVID-19


Coronavirus disease 2019 merupakan penyakit menyebar yang
disebabkan oleh SARS-CoV-2, yang merupakan bagian keluarga besar
coronavirus. Penyakit ini menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan yang
secara genetik jenis virus ini sangat berbeda dengan virus SARS-CoV dan
MERS-CoV. Penyakit ini memiliki kesamaan dengan keduanya, menular dan
menyebar melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin. Kontak langsung
dan penularan aerosol menjadi rute utama dalam penyebaran penyakit ini.
Penelitian Doremalen et al. (2020) menemukan bahwa virus SARS CoV-2
mampu bertahan hingga tiga hari di plastik dan stainless steel dan bertahan
selama 3-4 jam dalam aerosol. Tetesan aerosol oleh penderita di ruangan
tertutup lebih memudahkan penularan karena konsentrasi aerosol di ruang
relatif tertutup.
Penyebaran Covid-19 menyebabkan seluruh negara harus menerima
segala tantangan, hambatan, dan ketidakpastian serta perlambatan ekonomi
global. Pandemi memberikan dampak pada segala aspek baik mikro maupun
makro. Pembatasan kegiatan menyebabkan menurunnya permintaan tenaga
kerja, perusahaan-perusahaan di berbagai sektor mengambil tindakan PHK,
menurunnya pendapatan masyarakat berdampak pada penurunan konsumsi.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan perekonomian Indonesia 2020
12
mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2.07% (BPS, 2020). Sektor
pertanian tumbuh 2.6% (YoY) didorong oleh sub sektor perikanan, pertanian,
perburuan serta peternakan, tanaman pangan tumbuh hingga 10.5%, tanaman
hortikultura tumbuh sebesar 7.8%. Meningkatnya produksi dan permintaan
padi, jagung, ubi kayu, sayuran dan buah-buah selama pandemi.
Sektor informasi dan komunikasi meningkat sebesar 10.9%
disebabkan pergantian sistem mendorong permintaan masyarakat akan sarana
dan prasarana informasi dan komunikasi. Subsektor kimia, farmasi dan obat
tradisional tumbuh sebesar 8.4%, disebabkan meningkatnya permintaan
domestik dan alat-alat kesehatan. Industri makanan dan minuman tumbuh
sebesar 1.7%. Industri pengolahan turun sebesar 19% (YoY) kontraksi yang
cukup dalam disebabkan turunnya permintaan pasar pada mobil dan motor.
Sektor konstruksi turun sebesar 5.7% disebabkan turunnya kebutuhan
konstruksi. Sektor transportasi dan akomodasi turun sebesar 13.4% hal ini
disebabkan turunnya permintaan transportasi dan pemberlakuan restriksi
perjalanan di berbagai negara. Sektor informasi dan komunikasi meningkat
sebesar 10.9% disebabkan pergantian sistem mendorong permintaan masyarakat
akan sarana dan prasarana informasi dan komunikasi. Sektor industri
pengolahan mengalami kontraksi sebesar 3.1% (YoY) disebabkan penurunan
daya beli masyarakat, turunnya utilitas produksi, dan lesunya aktivitas
perdagangan global (BPS,2020)