Anggaran Digital Marketing


Mahal atau tidaknya digital marketing tergantung dengan jenis
yang digunakan oleh perusahaan. Jika digital marketing seperti
SEO serta konten tentu saja tidak menghabiskan banyak
anggaran. Akan tetapi, jika digital marketing seperti brosur
online serta email tentu saja memerlukan biaya-biaya tertentu.
Setelah mengetahui tentang pengertian digital marketing, untuk
kesuksesan dan kelancaran bisnis tentu juga harus didukung
perencanaan keuangan yang baik. Melakukan penghitungan,
pelaporan, dan analisa keuangan merupakan kegiatan
pendukung untuk melakukan strategi pemasaran.
Kesalahan Umum Pada Digital Marketing
Banyaknya kemudahan yang ditawarkan oleh konsep
pemasaran digital memang menggiurkan. Tetapi penting untuk
di perhatikan bahwa ada beberapa kesalahan seperti di bawah
ini yang harus dihindari saat menjalankan konsep pemasaran
digital agar bisnis dapat berjalan sesuai dengan rencana
pemasaran.

  1. Strategi yang Tidak Tepat Sasaran
    Strategi dan perencanaan merupakan sebuah langkah awal
    untuk menentukan arah sebuah bisnis. Apalagi di era digital
    seperti saat ini, tren begitu mudah berubah dari waktu ke
    waktu, sehingga kebutuhan dan keinginan konsumen
    semakin beragam setiap hari. Biasanya beberapa marketer
    bertekad untuk mendapatkan cakupan konsumen yang
    banyak, sehingga kerap serampangan dalam memilih target
    pasar. Hal ini yang akan menyulitkan proses digital
    marketing terlebih dalam proses analisa audiens yang
    menjangkau produk perusahaan. Sebelum mengenalkan
    produk maupun jasa kepada masyarakat secara luas,
    perusahaan harus menentukan tujuan dan rencana
    pemasaran produk tersebut. Pastikan bahwa strategi
    pemasaran yang di rancang sudah spesifik, tepat sasaran,
    dan dapat dijangkau dengan mudah oleh target pasar.
  2. Memahami Calon Konsumen
    Bisnis yang sedang dijalani harus mampu menjadi solusi
    atas kebutuhan konsumen. Namun, masih ada banyak
    pebisnis yang mengabaikan hal tersebut, sehingga mereka
    cenderung menawarkan produk yang tidak sesuai dengan
    permintaan pasar. Itulah sebabnya mengapa perusahaan
    wajib untuk mengukur tingkat kebutuhan pasar sebelum
    menyusun strategi pemasaran. Idealisme bisnis memang
    sangat penting, namun produk yang dijual juga harus
    memerhatikan audiens, apa kebutuhannya, apa yang
    menjadi kesukaan dan tren calon konsumen. Memahami
    calon konsumen tidak perlu mengubah produk, namun
    dengan menyesuaikan kemasan, konten promosi, dan juga
    pemilihan Key Opinion Leader. Perusahaan dapat mencari
    tren produk yang sedang berkembang di masyarakat dengan
    menggunakan Google Trends. Cukup masukkan nama
    produk pada kolom pencarian, Google Trends akan
    menunjukkan grafik permintaan produk yang dimaksud.
  3. Mengabaikan Pengukuran Kinerja Digital Marketing
    Fungsi digital marketing tidak hanya fokus pada fitur
    promosi yang lebih mudah namun juga terukur. Padahal
    salah satu inti seorang pebisnis menggunakan digital
    marketing adalah untuk melihat kinerja pemasaran melalui
    analisis angka. Berapakah audiens yang sadar dengan brand
    perusahaan, mengunjungi website, atau meng-klik iklan di
    mesin pencarian.
  4. Mengabaikan Story-telling dan Copywriting
    Dalam pengertian yang relevan, digital marketing erat
    kaitannya dengan konten. Hal yang paling penting dalam
    pembuatan konten adalah tulisan. Baik konten desain
    ataupun video, peran copywriting sangat diperlukan untuk
    menyampaikan pesan yang akan diberikan kepada calon
    konsumen. Tulisan yang dibuat juga harus mampu
    memberikan kesan dan mengedukasi audiens sehingga
    produk yang diberikan dapat disadari dengan mudah.
  5. Halaman Website yang Tidak Rapi dan Tidak Lengkap
    Website resmi perusahaan merupakan elemen pertama yang
    pada umumnya dituju oleh para konsumen ketika mencari
    informasi produk melalui mesin pencarian. Di era digital
    ini, dapat dikatakan bahwa website merupakan “wajah”
    bisnis. Itulah sebabnya mengapa perlu memastikan tampilan
    website mampu mengakomodasi kebutuhan para
    pengunjung, bukan malah akan membuat mereka bingung
    karena navigasi website yang rumit. Website bisnis yang
    baik harus mampu menghadirkan informasi, call-to-action,
    dan landing page yang jelas serta tidak merusak fokus
    pengunjung untuk menemukan apa yang mereka cari.
    Pastikan pula pesan yang ditampilkan di muka website
    singkat, jelas, namun sangat informatif. Website yang tidak
    lengkap seperti tidak memiliki blog, tidak dilengkapi
    dengan informasi kontak atau About Us, juga dapat merusak
    reputasi bisnis. Selain About Us, nomor telepon dan alamat
    email perusahaan juga wajib ditampilkan dalam website
    untuk memudahkan konsumen menyalurkan pertanyaan,
    saran, dan kritiknya. Website juga harus sudah beradaptasi
    dengan perilaku pengguna dengan menggunakan fitur go-
    mobile. Perilaku pengguna yang semakin dinamis menuntut
    sebuah website dapat diakses di manapun dan kapanpun.
  6. Iklan dan Landing Page yang Tidak Sesuai
    Kesalahan marketing yang satu ini jelas saja akan
    menurunkan kepercayaan konsumen. Misalnya perusahaan
    sedang mencari laptop murah di Google, lalu klik iklan
    yang tersedia, tetapi ternyata malah diarahkan ke halaman
    website yang menampilkan tablet dengan harga fantastis.
    Untuk mencegah hal tersebut terjadi pada bisnis, periksa
    dan analisa kembali elemen yang akan ditampilkan
    di landing page. Konten landing page harus sesuai dengan
    iklan yang dipasang di Google, Facebook, YouTube,
    Instagram, dan lain sebagainya.
  7. Proses Check-out yang Rumit
    Jika website perusahaan mengharuskan konsumen untuk
    melalui tahapan check-out yang rumit, maka hampir dapat
    dipastikan bahwa konsumen justru akan meninggalkan
    website tanpa menyelesaikan pembeliannya. Ketika
    konsumen sudah sampai pada tahap check-out, langkah
    menuju proses pembayaran harus singkat dan sederhana.
  8. Tidak Menghitung Return of Investment (ROI)
    ROI atau yang lebih dikenal dengan istilah laba atas
    investasi merupakan rasio uang yang diperoleh atau hilang
    dalam sebuah investasi. Jika perusahaan tidak menghitung
    ROI, maka perusahaan tidak akan mengetahui efektivitas
    strategi pemasaran yang telah diterapkan. Menghitung ROI
    bisa menjadi hal yang cukup rumit. Pertama, perlu
    menentukan komponen mana saja yang perlu dihitung,
    seperti traffic, leads, conversion rate, atau jumlah klik. ROI
    harus dihitung dengan mengurangi jumlah total penjualan
    dengan biaya investasi, kemudian bagi dengan keseluruhan
    biaya investasi dan dikalikan dengan 100%