Dari perspektif perilaku, loyalitas didefinisikan sebagai transaksi berulang
selama periode waktu tertentu, terkadang diukur dengan rutin membeli produk dan
jasa, membeli produk yang lebih banyak dan berbeda dari perusahaan yang sama,
dan merekomendasikan merek/perusahaan kepada konsumen lain menurut Ball et
al., Hari, & Gronholdt et al., dalam (Restuputri et al., 2021).
Menurut Sudaryono (2016), loyalitas konsumen adalah konsumen yang
merasa puas atas merek atau produk yang mereka dapatkan sehingga akan membeli
ulang merek atau produk tersebut. Adapun hal yang menunjukan loyalitas
konsumen bisa dilihat dari pembelian yang berulang-ulang terhadap suatu merek
dan hal inilah yang diinginkan suatu produsen.
Menurut Tjiptono (2014), mendefinisikan loyalitas konsumen merupakan
keterikatan pelanggan terhadap merek, toko atau pemasok berdasarkan karakteristik
yang sangat positif dalam pembelian jangka panjang, dari sini dapat diartikan
bahwa loyalitas muncul dari kombinasi kepuasan dan keluhan. Menurut Tjiptono
& Chandra (2005), faktor penentu loyalitas konsumen yaitu:
a. Layanan Perawatan
Didasarkan pada kebutuhan pasar utama sehingga hubungan pelanggan
terbangun berkat layanan ini.
b. Penyesuaian Hubungan
Membangun hubungan yang erat antara pemasar dengan pelanggan.
c. Argumentasi Layanan
Layanan tambahan terkait teknologi kontruksi dan lebih baik jika tidak bisa
ditiru oleh pesaing.
d. Penetapan Harga Hubungan
Harga yang sangat mempengaruhi daya beli karena dapat membangun loyalitas
pelanggan.
e. Pemasaran Internal
Pemasaran internal merupakan faktor yang cukup penting, tekanan pada
karyawan, bagaimana perusahaan dalam mengelola karyawan agar memahami
prinsip pemasaran dan pemenuhan tugas mereka.
Konsumen yang loyal sangat besar artinya bagi perusahaan, menurut Griffin
(2005), ada empat indikator konsumen yang loyal yaitu:
a. Melakukan secara teratur pembelian ulang
b. Pembelian lini produk dan layanan
c. Mereferensikan keorang lain
d. Menunjukan kekebalan terhadap daya tarik pesaing
