Expectancy Disconfirmation Theory (EDT)


Dalam penelitian ini menggunakan Grand Theory Expectancy
Disconfirmation Theory (EDT) atau biasa disebut teori kepuasan. Teori ini di
rumuskan pada tahun 1980 oleh Richard L.Oliver. Teori EDT sering digunakan
dalam menjelaskan ketidakpuasan atau kepuasan terbentuk. Model teori ini
menjelaskan ketika konsumen membeli produk atau jasa setelah itu, mereka
membandingkan harapan mereka dari kinerja produk atau jasa yang mereka beli
atau gunakan setelahnya (Mufidah, 2021). Model Teori ini merupakan
pengembangan teori sebelumnya yang disebut Cognitive Dissonance Theory
(CDT) teori ini yang juga di perkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957.
CDT merupakan teori yang digunakan dalam menjelaskan perasaaan tidak
nyaman seseorang ketika yang mereka lakukan tidak sesuai dengan apa yang
mereka ketahui dan keyakinan mereka.
Menurut Ghassani, (2018) model ini terdapat empat elemen yaitu;

  1. Harapan; Dijelaskan sebagai antisipasi dari pelanggan tenang suatu kinerja
    produk atau layanan. Teori ini juga mampu memberikan penjelasan dari
    prilaku pelanggan yaitu, kesan pertama konsumen terhadap suatu produk atau
    layanan didasarkan pada pengalaman penggunaan sebelumnya, dan bagi
    mereka yang belum pernah menggunakan produk atau layanan tersebut
    sebelumnya, umpan balik mengenai kesan awal mereka dapat ditemukan
    dalam iklan dan media.
  2. Kinerja yang Dirasakan: Kinerja yang dirasakan konsumen dari suatu produk
    atau layanan disebut sebagai pengalaman pelanggan. Dan itulah yang akan
    menentukan apakah produk atau layanan tersebut dapat memenuhi harapan
    mereka atau tidak, baik dari pelanggan yang sudah pernah mengalaminya
    sendiri maupun yang belum pernah mengalaminya.
  3. Diskonfirmasi: ketika terdapat perbedaan pelanggan dari harapan awal
    pelanggan dan kinerja produk atau layanan maka akan terjadi diskonfirmasi.
  4. Kepuasan: ketika kinerja produk dan layanan tidak bisa memenuhi harapan
    pelanggan maka akan terjadi diskonfirmasi yang negatif dan dapat di artikan
    tidak adanya kepuasan dari pelanggan. Namun, jika kinerja layanan ataupun
    produk yang diberikan baik maka akan membentuk diskonfirmasi positif yang
    artinya pelanggan merasa puas.
    Expectancy Disconfirmation Theory (EDT) mendukung penelitian ini
    dengan menjelaskan bagaimana hubungan inovasi dan kualitas dalam layanan
    yang dirasakan akan membentuk rasa puas pada pelanggan yang nantinya akan
    menjadikan pelanggan yang loyal terhadap perusahaan. dalam teori ini variabel
    utama yang dijelasakan adalah harapan dan pengalaman pelanggan yang terbentuk
    dalam waktu berbeda. Sebelum melakukan pembelian atau penggunaan jasa
    disebut harapan awal, sedangkan pengalaman terbentuk setelah pelanggan
    merasakan kinerja dari produk atau jasa yang dibeli. Oleh karena itu,
    ketidaksesuaian harapan mengacu pada perbedaan antara harapan awal dan
    pengalaman yang dirasakan. Terdapat tiga bentuk ketidaksesuaian harapan, yaitu
    ketidaksesuaian positif, negatif, dan sederhana. Ketidaksesuaian positif terjadi
    ketika kinerja yang ada pada produk atau layanan melebihi harapan pelanggan,
    ketidaksesuaian negatif terjadi ketika kinerja aktual tidak memenuhi harapan. Di
    sisi lain, ketidaksesuaian sederhana muncul ketika tidak ada perbedaan antara
    harapan dan kinerja nyata. Expectancy Disconfirmation Theory (EDT) telah
    banyak diterapkan dalam industri telekomunikasi untuk menilai harapan dan
    kepuasan pelanggan (Shukla, 2023).