Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga


Menurut Gunarsa (1986:42) keluarga harmonis atau sejahtera merupakan
tujuan penting. Olehkarena itu untuk menciptakan perlu diperhatikan faktor-faktor
berikut:
a. Perhatian. Yaitu menaruh hati pada seluruh anggota keluarga sebagai
dasarutama hubungan yang baik antar anggota keluarga. Baik
padaperkembangan keluarga dengan memperhatikan peristiwa dalam
keluargadan mencari sebab akibat permasalahan, juga terdapat perubahan
pada setiapanggotanya.
b. Pengetahuan. Perlunya menambah pengetahuan tanpa henti-hentinya
untukmemperluas wawasan sangat dibutuhkan dalam menjalani
kehidupankeluarga. Sangat perlu untuk mengetahui anggota keluarganya,
yaitu setiapperubahan dalam keluarga, dan perubahan dalam anggota
keluarganya, agarkejadian yang kurang diinginkan kelak dapat
diantisipasi.
c. Pengenalan terhadap semua anggota keluarga. Hal ini berarti
pengenalanterhadap diri sendiri dan pengenalan diri sendiri yang baik
penting untukmemupuk pengertian-pengertian.Bila pengenalan diri sendiri
telah tercapai maka akan lebih mudahmenyoroti semua kejadian atau
peristiwa yang terjadi dalam keluarga. Masalah akan lebih mudah diatasi,
karena banyaknya latar belakang lebih cepat terungkap dan teratasi,
pengertian yang berkembang akibat pengetahuan tadi akan mengurangi
kemelut dalam keluarga.
d. Sikap menerima. Langkah lanjutan dari sikap pengertian adalah sikap
menerima, yang berarti dengan segala kelemahan, kekurangan, dan
kelebihannya, ia seharusnya tetap mendapatkan tempat dalam keluarga.
Sikap ini akan menghasilkan suasana positif dan berkembangnya
kehangatan yang melandasi tumbuh suburnya potensi dan minat dari
anggota keluarga.
e. Peningkatan usaha. Setelah menerima keluarga apa adanya maka
perlumeningkatkan usaha. Yaitu dengan mengembangkan setiap dari
aspekkeluarganya secara optimal, hal ini disesuaikan dengan setiap
kemampuanmasing-masing, tujuannya yaitu agar tercipta perubahan-
perubahan danmenghilangkan keadaan bosan.
f. Penyesuaian harus perlu mengikuti setiap perubahan baik dari fisik
orangtua maupun anak.
Sarlito (1982:79) mengemukakan bahwa keluarga harmonis atau keluarga
bahagia adalah apabila dalamkehidupannya telah memperlihatkan faktor-faktor
berikut:
a. Faktor kesejahteraan jiwa. Yaitu rendahnya frekwensi pertengkaran dan
percekcokan di rumah, saling mengasihi, saling membutuhkan, saling
tolong-menolong antar sesama keluarga, kepuasan dalam pekerjaan dan
pelajaran masing-masing dan sebagainya yang merupakan indikator-
indikator dari adanya jiwa yang bahagia, sejahtera dan sehat.
b. Faktor kesejahteraan fisik. Seringnya anggota keluarga yang sakit, banyak
pengeluaran untuk kedokter, untuk obat-obatan, dan rumah sakit tentu
akan mengurangi dan menghambat tercapainya kesejahteraan keluarga.
c. Faktor perimbangan antara pengeluaran dan pendapatan
keluarga.Kemampuan keluarga dalam merencanakan hidupnya
dapatmenyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran dalam keluarga.
Faktor lain yang juga mempengaruhi keharmonisan keluarga adalah
kondisi ekonomi keluarga. Tingkat sosial ekonomi yang rendah seringkali
menjadi penyebab terjadinya permasalahan dalam sebuah keluarga. Akibat
banyaknya masalah yang ditemui karena kondisi keuangan yang memprihatinkan
ini menyebabkan kondisi keluarga menjadi tidak harmonis. Banyaknya masalah
yang dihadapi keluarga ini akan berpengaruh kepada perkembangan mental anak,
sebab pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan yang diperoleh anak
di rumah, tentu akan terbawa pula ketika anak bergaul dengan lingkungan
sosialnya (Gunarsa, 1991:204)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang dapat
mempengaruhi keharmonisan keluarga adalah perhatian, pengetahuan dan
pengenalan terhadap diri sendiri dan semua anggota keluarga, penerimaan satu
sama lain, kemampuan dan kesejahteraan jiwa dan fisik serta kondisi ekonomi
keluarga