Teori Kepuasan


Teori yang berhubungan dengan konsep kepuasan telah
banyak diuraikan oleh beberapa pakar, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1) Teori Hirarki Kebutuhan Maslow.
Menurut Maslow, setiap individu memiliki
kebutuhan – kebutuhan yang tersusun secra hierarki dari
tingkatan mendasar sampai pada tingkatan paling tinggi.
Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling rendah terpenuhi,
maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada
tingkatan yang paling bawah dicantumkan berbagai
kebutuhan dasar bersifat biologis. Pada tingkatan yang lebih
tinggi dicantumkan berbagai kebutuhan yang bersifat sosia,
pada tingkatan yang paling tinggi dicantumkan kebutuhan
untuk mengaktualisasikan diri. Hierarki kebutuhan menurut
Maslow adalah sebagai berikut:
a) Kebutuhan fisiologis (physiological needs).
b) Kebutuhan keamanan (safety needs).
c) Kebutuhan untuk bersosialisasi (social/affiliation needs).
d) Kebutuhan penghargaan (esteem needs).
e) Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualizationneeds).
Teori ini dijelaskan oleh Maslow bahwa mencoba
memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar sebelum
mengarahkan perilaku dalam memuaskan kebutuhan yang
lebih tinggi, dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap
individu akan merasakan kepuasan setelah kebutuhan
dasarnya terpenuhi dan akan selalu berusaha untuk
memuaskan dirinya dengan memenuhi kebutuhan yang
tingkatannya lebih tinggi dalam teori Maslow.
2) Teori Dua Faktor Herzberg.
Teori ini menyatakan bahwa kepuasan dan
ketidakpuasan merupakan 2 (dua) hal yang berbeda, dimana
kepuasan dan ketidakpuasan di sini berhubungan dengan
pekerjaan dalam Wati Setiasih, (2006). Herzberg
mengemukakan bahwa kepuasan ditentukan oleh dua faktor
yaitu :
a) Motivator (Satisfiers), yaitu faktor-faktor yang
menimbulkan kepuasan meliputi : pencapaian,
pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, dan
pengembangan
b) Hygiene Factors (Dissatisfier), yaitu faktor-faktor yang
menimbulkan ketidakpuasan kerja meliputi kebijakan dan
administrasi perusahaan, teknis supervisi, penghasilan,
hubungan interpersonal, kondisi kerja, keamanan kerja,
dan status Wati Setiasih, (2006). Keberadaan faktor
Motivator (Satisfiers) dapat menimbulkan kepuasan.
Tetapi ketidakberadaan faktor ini tidak selalu
menimbulkan ketidakpuasan. Perbaikan pada Hygiene
Factor (Dissatisfiers) dapat mengurangi ketidakpuasan
tetapi tidak dapat menimbulkan kepuasan karena faktor
ini bukan merupakan sumber kepuasan Wati Setiasih,
(2006).
3) Teori Perbedaan/Pertentangan (Discrepancy Theory
Teori ini dipelopori oleh Proter dalam Wati Setiasih,
(2006). Proter mengemukakan bahwa untuk mengetahui
kepuasan dalam hal ini kepuasan kerja individu dilakukan
dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya
dengan kenyataan sesungguhnya. Locke dalam Wati Setiasih,
(2006). Lebih lanjut mengatakan bahwa individu akan
merasakan kepuasan dalam halini pekerjaan jika tidak ada
perbedaan antara yang diinginkannya dengan persepsinya
atas kenyataan. Pada prinsipnya, teori ini tampak serupa
dengan sefinisi konsep kepuasan itu sendiri yang telah
diuraikan sebelumnya.