Menurut Schiffman dan Kanuk (2010:23), perilaku konsumen
didefinisikan sebagai perilaku menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan
produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.
Perilaku konsumen didefinisikan oleh Winardi sebagai perilaku yang ditujukan
oleh orang-orang dalam merencanakan, membeli, dan menggunakan barang-
barang ekonomi dan jasa. Sedangkan Sumarwan mendefinisikan perilaku
konsumen sebagai semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang
mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli,
menggunakan, mengabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas
atau kegiatan mengevaluasi (Sumarwan, 2003).
Menurut David L. Louden dan Albert J. Della Bitta dalam Umar (2003:11)
perilaku konsumen didefinisikan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dan
aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh,
menggunakan atau dapat mempergunakan barang-barang dan jasa. Sedangkan
Engel et al. (1990) dan Kotler et al. (1996) dalam Tjiptono (1998:19) menyatakan
bahwa perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan individu yang secara
langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan, dan menentukan
produk dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan
mengikuti tindakan-tindakan tersebut.
Mowen dan Minor (2002:6) perilaku konsumen didefinisikan sebagai
suatu studi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang
melibatkan perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa pengalaman, serta
ide-ide. Dalam proses pembelian (buying proses), seorang konsumen selalu
berhubungan dengan proses pertukaran (exchange process) sumber daya yang
terjadi di antara kedua belah pihak, yaitu antara konsumen dengan perusahaan
atau juga dapat terjadi di antara dua perusahaan ketika sedang menghadapi situasi
pembelian industrial.
Mowen dan Minor (2002:11-14) menjelaskan bahwa terdapat tiga
perspektif riset perilaku konsumen, yaitu perspektif pengambilan keputusan
(decision-making perspective), perspektif pengalaman (experiential persepective)
dan perspektif pengaruh perilaku (behavioral influence perspective). Ketiga
perspektif tersebut sangat berguna untuk dipahami. Perspektif pengambilan
keputusan (decision-making perspective) menggambarkan seorang konsumen
sedang melakukan serangkaian langkah-langkah tertentu pada saat melakukan
pembelian. Langkah tersebut meliputi pengenalan masalah, mencari, evaluasi
alternatif, memilih, dan evaluasi pasca perolehan. Pengambilan keputusan
konsumen berdasarkan perspektif pengalaman (experiental perspective), untuk
beberapa hal konsumen tidak melakukan pembelian sesuai dengan proses
pengambilan keputusan yang rasional. Akan tetapi konsumen melakukan
pembelian produk atau jasa tertentu dengan tujuan untuk memperoleh
kesenangan, menciptakan fantasi, atau perasaan emosi saja.
