Menurut Luthans (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
antara lain adalah sebagai berikut :
- Pekerjaan itu sendiri (The work it self).
Kesenangan individu terhadap pekerjaannya merupakan sumber utama dari
kepuasan kerja. Beberapa unsur yang penting dari kepuasan kerja adalah pekerjaan
yang tidak monoton, bervariasi sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi
pekerja. - Imbalan atau kompensasi (Pay).
Mengenai gaji, upah dan tunjangan, semuanya adalah penting, tetapi merupakan
faktor yang komplek (rumit), multidimensi dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya
membantu individu dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup, tetapi juga
merupakan alat (instrument) dalam menaikkan tingkat kepuasan. Pegawai sering
memandang imbalan sebagai sebuah cerminan dari pada cara pandang manajemen
dalam menilai kontribusi pegawai kepada organisasi. Keuntungan bagi pegawai
rendahan adalah perlu, walaupun mereka tidak terpengaruh, karena mereka tidak
mengetahui nilai yang mereka sumbangkan bagi organisasi untuk memperoleh
keuntungan. Penelitian terakhir menunjukkan jika semua pegawai mengikuti
beberapa pilihan keuntungan yang fleksibel, mereka lebih menyukai paket
menyeluruh, disebut rencana keuntungan yang fleksibel, ini merupakan suatu
pengaruh yang nyata dari semua kepuasan yang diperoleh, dan keseluruhan dari
kepuasan kerja. - Promosi (Promotion)
Kesempatan untuk dipromosikan merupakan sebuah variasi dampak dalam
kepuasan kerja, karena promosi mengakibatkan perbedaan bentuk dan memperoleh
bermacam-macam tunjangan dari perusahaan untuk level manajer, lain halnya
apabila promosi pada pegawai biasa karena pengalaman kerjanya atau senioritas
yang telah dimiliki. Dengan demikian kepuasan akan lebih besar bagi individu yang
mendapat promosi untuk menduduki suatu jabatan, dibandingkan pegawai yang
dipromosikan karena senioritasnya sehingga memperoleh kenaikan imbalan. - Pengawasan/penyelia (Supervision).
Pengawasan adalah sumber lain yang cukup penting dari kepuasan kerja.
Sampai saat ini, bagaimanapun terdapat dua dimensi dari gaya pengawasan yang
mempengaruhi kepuasan kerja. Pegawai yang bekerja bukan dikantor pusat dan
kinerjanya dinilai oleh pengawas untuk menentukan besarnya imbalan yang pegawai
peroleh, tentunya akan berpengaruh terhadap personal interens karena menentukan
jumlah yang akan mereka peroleh. Pegawai di Amerika umumnya memprotes para
pengawas yang tidak bekerja dengan baik pada pekerjaannya.Suatu survey skala
besar menemukan bahwa lebih dari setengah responden merasa supervisor mereka
secara reguler menampung umpan balik atau mencoba untuk memecahkan masalah
mereka. - Kelompok Kerja (Group Work).
Sifat dasar kelompok kerja dapat mempengaruhi kepuasan kerja. Keramahan,
kerja sama dalam kelompok kerja semuanya merupakan sumber terhadap kepuasan
kerja bagi pegawai. Kelompok kerja dapat menjadi sumber bagi para pekerja untuk
memperoleh dukungan, bantuan (hukum), saran/nasihat, dan tempat bertanya.
Sedangkan menurut Munandar (2006:357) mengklasifikasikan beberapa faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja diantaranya yaitu: - Karakteristik Pekerjaan
Menurut Locke, ciri-ciri intrinsik dari pekerjaan yang menentukan kepuasan
kerja ialah keragaman, kesulitan, jumlah pekerjaan, tanggung jawab, otonomi,
kendali terhadap metode kerja, kemajemukan dan kreativitas. - Gaji Penghasilan, Imbalan yang Dirasakan Adil (Equittable Reward)
Siegel & Lane mengutip kesimpulan yang diberikan oleh beberapa ahli yang
meninjau kembali hasil-hasil penelitian tentang pentingnya gaji sebagai penentu dari
kepuasan kerja, yaitu bahwa para sarjana psikologi telah secara tradisional dan
salah meminimasi pentingnya uang sebagai penentu kepuasan kerja. Ternyata,
menurut hasil penelitian yang dilakukan Theriault, kepuasan kerja merupakan fungsi
dari jumlah absolute dari gaji yang diterima, derajat sejauh mana gaji memenuhi
harapan tenaga kerja dan bagaimana gaji diberikan.
Herzberg memasukkan faktor kompensasi kedalam faktor kelompok Hygiene.
Jika dianggap gajinya terlalu rendah, tenaga kerja akan merasa tidak puas. Namun
jika dirasakan tinggi atau dirasakan sesuai dengan harapan, maka istilah Herzberg
adalah tenaga kerja tidak lagi tidak puas. Artinya tidak ada dampak pada kinerja
karyawan. - Penerimaan atas pimpinan
Locke memberikan kerangka kerja teoritis untuk memahami kepuasan tenaga
kerja dengan pimpinan. Locke menemukan dua jenis dari hubungan atasan-
bawahan: hubungan fungsional dan keseluruhan (entity). Hubungan fungsional
mencerminkan sejauh mana penyelia membantu tenaga kerja, untuk memuaskan
nilai-nilai pekerjaan yang penting bagi tenaga kerja. Sedangkan hubungan
keseluruhan didasarkan pada ketertarikan antar pribadi yang mencerminkan sikap
dasar dan nilai-nilai yang serupa.
Judge dan Locke (1993), menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan
salah satu faktor penentu kepuasan kerja. Jenkins dalam (manajemen 1990),
mengungkapkan keluarnya karyawan disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap
kondisi kerja karena karyawan merasa pimpinan tidak memberikan kepercayaan
terhadap karyawan, tidak ada keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan,
pimpinan berlaku tidak objektif dan tidak jujur terhadap karyawan. Pendapat ini
didukung oleh Nanus (1992) yang mengemukakan bahwa alasan yang utama
karyawan meninggalkan organisasi disebabkan karena pemimpin gagal dalam
memahami karyawan dan pemimpin tidak memperhatikan kesejahteraan
karyawannya. - Rekan kerja yang Menunjang
Hubungan yang ada antar rekan kerja adalah hubungan ketergantungan
sepihak yang bercorak fungsional. Kepuasan kerja yang ada pada para pekerja
timbul karena mereka, dalam jumlah tertentu, berada dalam satu ruangan kerja,
sehingga mereka dapat saling berbicara (kebutuhan sosialnya dipenuhi). - Kondisi tempat kerja
Bekerja alam ruangan yang sempit, panas, yang cahaya lampunya
menyilaukan mata, kondisi kerja yang tidak nyaman akan menimbulkan keengganan
untuk bekerja. Maka dari itu biasanya karyawan akan mencari alasan untuk sering
keluar dari ruang kerjanya. Untuk itu perusahaan harus memperhatikan kondisi dan
tempat kerja untuk meningkatkan produktifitas dan kepuasan kerja.
Berdasarkan pemaparan dari beberapa tokoh di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa, Kepuasan Kerja adalah psikis yang menyenangkan karena terpenuhinya
kebutuhan dasar dalam bekerja, baik itu yang berhubungan dengan persepsi atas
pemimpin, karakteristik pekerjaannya, interaksi dengan rekan kerja dan jenjang karir.
