Menurut Kotler (2006 dalam Rizan, Saidani, Sari 2012) citra merek adalah
penglihatan dan kepercayaan yang terpendam di benak konsumen, sebagai
cerminan asosiasi yang tertahan di ingatan konsumen. Sedangkan menurut
Pawitra T (2002:83) citra merek merepresentasikan keseluruhan persepsi dari
terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pegalaman masa lalu
terhadap merek itu.
Menurut Setiadi J (2003:110) citra merek mempresentasikan keseluruhan
persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa
lalu terhadap merek itu. Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap
yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen
dengan citra yang positif terhadap suatu merek, lebih memungkinkan untuk
melalukan pembelian, oleh karena itu kegunaan utama dari iklan adalah untuk
membangun citra positif terhadap merek.
Supranto dan Limakrisna (2011:128) citra merek adalah apa yang
konsumen pikir atau rasakan ketika mereka mendengar atau melihat nama
suatu merek atau pada intinya apa yang konsumen telah pelajari tentang
merek. Citra merek disebut juga memori merek yang skematis, berisi
interpretasi pasar sasaran tentang atribut atau karakteristik produk, manfaat
produk, situasi penggunaan dan karakteristik manufaktur atau pemasar.
Rangkuti F (2009:90) menurut Keller citra merek adalah persepsi merek
yang dihubungkan dengan asosiasi merek yang melekat dalam ingatan
konsumen, asosiasi merek merupakan informasi terhadap merek yang
diberikan oleh konsumen yang diberikan oleh konsumen yang ada dalam
ingatan mereka dan mengandung arti merek tersebut. Konsumen selalu
mengidentifikasikan bahwa citra yang mereka miliki cocok dengan citra yang
mereka inginkan. Sedangkan menurut Zikmund, konsumen cenderung
mendefinisikan sendiri sesuai dengan nilai simbolis dari keinginan mereka
sendiri. Nilai simbolis yang berhubungan dengan merek disebut dengan citra
merek.
Simamora dan Lim (2003:92) Citra merek merupakan interpretasi
akumulasi berbagai informasi yang diterima konsumen. Jadi yang
menginterpretasi adalah konsumen, dan yang diinterpretasi adalah informasi.
Hasil interpretasi bergantung pada dua hal. Pertama, bagaimana konsumen
melakukan interpretasi, dan kedua, informasi apa yang diinterpretasi
