Pengambilan keputusan untuk berinvestasi bagi investor dapat dipengaruhi
oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah faktor psikologis. Faktor
psikologis ini menjadi salah satu penentu apakah investor sudah membuat
keputusan berinvestasi yang rasional atau tidak rasional.
Dengan adanya resiko yang dihadapi investor dalam berinvestasi, maka
seorang investor harus mampu untuk mengambil keputusan secara tepat. Namun
pada kenyataannya investor sering membuat keputusan investasi secara tidak
rasional. Dalam situasi beresiko, terdapat emosi dan faktor psikologis yang ikut
mempengaruhi keputusan berinvetasi. Hal ini seringkali menyebabkan investor
berperilaku tidak rasional dan membuat kesalahan sistematis dalam keputusan
investasinya.
Hal ini juga diungkapkan oleh Nofsinger (2001) behavioral finance yaitu
mempelajari bagaimana manusia secara aktual berperilaku dalam sebuah
penentuan keuangan. Khususnya bagaimana faktor psikologi mempengaruhi
keputusan dalam berinvestasi. Konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan
bahwa perilaku keuangan menrupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan
bagaimana manusia melakukan investasi dipengaruhi oleh faktor psikologi.
Salah satu contoh faktor psikologis atau bias perilaku yang cukup populer
digunakan dalam penelitian yaitu rasa optimisme yang berlebihan. Menurut Ton
dan Dao (2014), optimisme berlebihan merupakan rasa percaya diri yang
berlebihan dan keyakinan bahwa masa depan akan menjadi lebih baik
dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Optimisme berlebihan ini merupakan
salah satu faktor psikologis yang disebabkan oleh pengambilan keputusan secara
heuristik. Faktor psikologis ini menjadi salah satu penentu apakah investor sudah
membuat keputusan berinvestasi yang rasional atau tidak rasional.
