Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi


Memberikan motivasi kepada pegawai oleh pimpinannya merupakan
proses kegiatan pemberian motivasi kerja, sehingga pegawai tersebut
berkemampuan untuk pelaksanaan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Tanggung jawab adalah kewajiban bawahan untuk melaksanakan tugas sebaik
mungkin yang diberikan oleh atasan, dan inti dari tanggung jawab adalah
kewajiban Siagian (2001:286). Nampaknya pemberian motivasi oleh pimpinan
kepada bawahan tidaklah begitu sukar, namun dalam praktiknya pemberian
motivasi jauh lebih rumit. Siagian (2001:287) menjelaskan kerumitan ini
disebabkan oleh:

  1. Kebutuhan yang tidak sama pada setiap pegawai, dan berubah sepanjang
    waktu. Disamping itu perbedaan kebutuhan pada setiap taraf sangat
    mempersulit tindakan motivasi para manajer. Dimana sebagian besar para
    manajer yang ambisius, dan sangat termotivasi untuk memperoleh kepuasan
    dan status, sangat sukar untuk memahami bahwa tidak semua pegawai
    mempunyai kemampuan dan semangat seperti yang dia miliki, sehingga
    manajer tersebut menerapkan teori coba-coba untuk menggerakkan
    bawahannya.
  2. Feeling dan emotions yaitu perasaan dan emosi. Seseorang manajer tidak
    memahami sikap dan kelakuan pegawainya, sehingga tidak ada pengertian
    terhadap tabiat dari perasaan, keharusan, emosi.
  3. Aspek yang terdapat dalam diri pribadi pegawai itu sendiri seperti kepribadian,
    sikap, pengalaman, budaya, minat, harapan, keinginan, lingkunga yang turut
    mempengaruhi pribadi pegawai tersebut.
  4. Pemuasan kebutuhan yang tidak seimbang antara tanggung jawab dan
    wewenang. Wewenang bersumber atau datang dari atasan kepada bawahan,
    sebagai imbalannya pegawai bertanggung jawab kepada atasan, atas tugas yang
    diterima. Seseorang dengan kebutuhan akan rasa aman yang kuat mungkin
    akan “mencari amannya saja”, sehingga akan menghindar menerima tanggung
    jawab karena takut tidak berhasil dan diberhentikan dan di lain pihak mungkin
    seseorang akan menerima tanggung jawab karena takut diberhentikan karena
    alasan prestasi kerja yang jelek (buruk). Menurut Gomes (2003:180), motivasi
    seorang pekerja untuk bekerja biasanya merupakan hal yang rumit, karena
    motivasi itu melibatkan faktor-faktor individual dan faktor-faktor
    organisasional. Yang tergolong pada faktor-faktor yang sifatnya individual
    adalah kebutuhan-kebutuhan (needs), tujuan-tujuan (goals), sikap (attitudes),
    dan kemapuan kemampuan (abilities). Sedangkan yang tergolong pada faktorfaktor yang berasal dari organisasi meliputi pembayaran atau gaji (pay),
    keamanan pekerjaan (job security),sesama pekerja (co-workes), pengawasan
    (supervision), pujian (praise), dan pekerjan itu sendiri (job itself).
    Motivasi manusia yang telah dikembangkan oleh Maslow melalui
    penjelasan bahwa motivasi dipicu oleh usaha manusia untuk memenuhi
    kebutuhan Mathis dan Jackson (2001) dalam Harry Murti (2013:3) Pada teori
    ini, Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia yang diurutkan
    menjadi lima kategori. Hierarki kebutuhan Maslow terdiri atas:
    a. Fisiologis, antara lain kebutuhan akan sandang, pagan, papan dan
    kebutuhan jasmani lain.
    b. Keamanan, antara lain kebutuhan akan keselamatan dan perlindungan
    terhadap kerugian fisik dan emosional.
    c. Sosial, antara lain kasih sayang, rasa saling memiliki, diterima-baik,
    persahabatan.
    d. Penghargaan, antara lain mencakup faktor penghormatan diri seperti harga
    diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor penghormatan diri luar seperti
    misalnya status, pengakuan dan perhatian.
    e. Aktualisasi Diri, merupakan dorongan untuk menjadi seseorang atau
    sesuai ambisinya yang mencakup pertumbuhan, pencapaian potensi, dan
    pemenuhan kebutuhan diri.