Dampak perilaku dari kepuasan dan ketidakpuasan kerja telah banyak diteliiti
dan dikaji (Munandar, 2010), sebagai berikut:
- Dampak terhadap Produktivitas
Pada mulanya orang berpendapat bahwa produktivitas dapat dinaikkan
dengan menaikkan kepuasan kerja. Vroom yang mempelajari sejumlah besar
hasil penelitian melaporkan bahwa korelasi mediannya adalah 0,14. Kenyataan
ini sebagian dapat dijelaskan dengan mengatakan bahwa produktivitas
dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor moderator di samping kepuasan kerja.
Akhir-akhir ini terdapat pandangan bahwa kepuasan kerja mungkin
merupakan akibat, dan bukan merupakan sebab dari produktivitas. Lawler dan
Porter mengharapkan produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari
kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran
intrinsik (misalnya rasa telah mencapai sesuatu) dan ganjaran ekstrinsik
(misalnya gaji) yang diterima kedua-duanya adil dan wajar dan diasosiasikan
dengan unjuk-kerja yang unggul. - Dampak terhadap Ketidakhadiran (Absenteisme) dan Keluarnya Tenaga Kerja
(Turnover).
Porter & Steers berkesimpulan bahwa ketidakhadiran dan berhenti
bekerja merupakan jenis jawaban-jawaban yang secara kualitatif berbeda.
Ketidakhadiran lebih spontan sifatnya dan dengan demikian kurang mungkin
mencerminkan ketidakpuasan kerja. Lain halnya dengan berhenti atau keluar
dari pekerjaan. Perilaku ini karena akan mempunyai akibat-akibat ekonomis
yang besar, maka lebih besar kemungkinannya ia berhubungan dengan
ketidakpuasan kerja.
Steers dan Rhodes mengembangkan model dari pengaruh terhadap
kehadiran. Mereka melihat adanya dua faktor pada perilaku hadir, yaitu
motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir. Mereka percaya bahwa
motivasi untuk hadir dipengaruhi oleh kepuasan kerja dalam kombinasi dengan
tekanan-tekanan internal dan eksternal untuk datang pada pekerjaan.
Model meninggalkan pekerjaan dari Mobley, Horner, dan Hollingworth
menunjukkan bahwa setelah tenaga kerja menjadi tidak puas terjadi beberapa
tahap (misalnya berpikir untuk meninggalkan pekerjaan) sebelum keputusan
untuk meninggalkan pekerjaan diambil. Dari penelitian dengan menggunakan
model ini mereka menemukan bukti yang menunjukkan bahwa tingkat dari
kepuasan kerja berkorelasi dengan pemikiran-pemikiran untuk meninggalkan
pekerjaan, dan bahwa niat untuk meninggalkan pekerjaan berkorelasi dengan
meninggalkan pekerjaan secara aktual. - Dampak terhadap Kesehatan.
Salah satu temuan yang penting dari kajian yang dilakukan oleh
Kornhauser tentang kesehatan mental dan kepuasan kerja, ialah bahwa untuk
semua tingkatan jabatan, persepsi dari tenaga kerja bahwa pekerjaan mereka
menuntut penggunaan efektif dari kecakapan-kecakapan mereka berkaitan
dengan skor kesehatan mental yang tinggi. Skor-skor ini juga bertkaitan dengan
tingkat dari kepuasan kerja dan tingkat dari jabatan
