Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (8)

Kritik dan implikasi

Kelebihan utama TRA adalah kemampuannya menjelaskan perilaku melalui mekanisme yang jelas: keyakinan membentuk sikap dan norma subjektif, sikap serta norma membentuk niat, lalu niat memprediksi perilaku. TRA telah digunakan secara luas untuk meneliti perilaku kesehatan, penggunaan teknologi, niat membeli, perilaku keuangan, kepatuhan, adopsi layanan digital, dan perilaku pro-lingkungan. Studi meta-analitik atas 96 set data dengan total 22.594 partisipan juga melaporkan dukungan terhadap hubungan utama dalam teori reasoned action dan planned behavior, khususnya peran niat sebagai prediktor perilaku.

Namun, TRA memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, TRA kurang memadai untuk perilaku yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali individu, sehingga pengembangan ke TPB menjadi relevan. Kedua, terdapat kemungkinan intention–behavior gap, yaitu individu telah berniat melakukan suatu perilaku tetapi tidak merealisasikannya karena kendala waktu, akses, kebiasaan, emosi, atau situasi yang tidak terduga. Ketiga, kekuatan sikap dan norma subjektif dapat berbeda menurut konteks budaya, jenis perilaku, karakteristik responden, serta tingkat risiko keputusan.

Untuk penelitian kuantitatif, TRA dapat digunakan apabila perilaku yang diteliti relatif sadar, direncanakan, spesifik, dan dapat dikendalikan responden. Model dasar penelitian dapat dirumuskan sebagai: sikap terhadap perilaku dan norma subjektif memengaruhi niat berperilaku, kemudian niat berperilaku memengaruhi perilaku aktual. Apabila objek penelitian melibatkan hambatan kemampuan, sumber daya, akses teknologi, atau kendali eksternal, TPB lebih tepat digunakan karena memasukkan perceived behavioral control sebagai prediktor tambahan.