Perkembangan menjadi TPB
TRA dirancang terutama untuk menjelaskan perilaku yang berada dalam kendali volisional atau kehendak individu. Artinya, seseorang diasumsikan relatif bebas memutuskan apakah akan melakukan suatu tindakan. Keterbatasan ini muncul ketika perilaku dipengaruhi oleh hambatan sumber daya, keterampilan, kesempatan, biaya, waktu, akses, regulasi, atau kemampuan pribadi.
Ajzen (1985) kemudian memperluas TRA menjadi Theory of Planned Behavior (TPB) dengan menambahkan konstruk perceived behavioral control atau persepsi kontrol perilaku. Ajzen (1991) menjelaskan bahwa TPB mempertahankan sikap terhadap perilaku dan norma subjektif dari TRA, tetapi menambahkan persepsi individu mengenai kemudahan atau kesulitan untuk melakukan perilaku tertentu.sagepub+1
Dalam TPB, niat berperilaku menjadi fungsi dari tiga konstruk utama:
BI=w1(AB)+w2(SN)+w3(PBC)BI = w_1(AB) + w_2(SN) + w_3(PBC)BI=w1(AB)+w2(SN)+w3(PBC)
dengan PBCPBCPBC sebagai perceived behavioral control. Selain memengaruhi niat, perceived behavioral control juga dapat memengaruhi perilaku aktual secara langsung, terutama jika persepsi kontrol tersebut mencerminkan ketersediaan sumber daya dan kemampuan yang nyata.
Contohnya, seseorang mungkin memiliki sikap positif terhadap penggunaan layanan telemedicine dan memperoleh dukungan dari keluarga. Namun, ia tetap tidak menggunakan layanan tersebut apabila tidak memiliki perangkat yang memadai, akses internet stabil, literasi digital, kemampuan pembayaran, atau rasa percaya diri dalam menggunakan aplikasi. Kondisi semacam ini tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh TRA, tetapi lebih dapat dijelaskan melalui TPB
