Teori Kebijakan Deviden


Ada beberapa teori yang bisa me menjadi landasan dalam penentuan
kebijakan deviden dalam perusahaan. Salah- satunya adalah (Syahyunan, 2015),
Teori “The Bird in the hand”. Teori ini dikemukakan oleh Myron J. Gordon dan
Jhon Lintner yang menyatakan bahwa biaya dari modal perusahaan akan naik jika
devidend Payout Ratio-nya rendah dikarenakan investor cenderung lebih memilih
untuk menerima deviden daripada capital gain. Investor lebih tertarik terhadap
deviden dibandingkan dengan capital gain.
Teori ini memandang bahwa return investasi saham biasa dalam bentuk
deviden atau capital gain. Selisih lebih antara harga jual dan harga beli saham
merupakan keuntungan yang dapat diperoleh investor yang bisa juga disebut capital
gain, keuntungan yang banyak menjadi prioritas dari investor secara continue dan
juga menjadi tujuan dari investor untuk mendapatkan keuntungan. Teori ini
menyatakan bahwa return dalam bentuk deviden lebih memiliki kepastian dan
dapat diprediksi jika dibandingkan dengan capital gain. Selain hal tersebut karena
capital gain lebih bersifat spekulasi karena dipengaruhi oleh perubahan harga
saham yang dapat setiap saat akan berubah-ubah bersifat fluktuatif, serta tergantung
pergerakan pasar modal sehingga perusahaan tidak bisa mengendalikan. Disamping
hal tersebut dividen memiliki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan capital
gain, sehingga investor lebih tertarik dengan dividen.
Pandangan kebijakan deviden tak relevan ini berasumsi bahwa tidak ada
hubungan antara kebijakan dividen dan nilai saham. Seperti yang dijelaskan oleh
Eugene F Brigham dan Joel F Houston (2007:480) “dividend irrelevance theory is
a firm’s dividend policy has no effect on either its value or its cost of capital”. Miller
dan Modligiani menjelaskan bahwa berdasarkan keputusan investasi perusahaan,
rasio pembayaran dividen hanyalah rincian dan tidak mempengaruhi kesejahteraan
pemegang saham. Nilai perusahaan ditentukan hanya oleh kemampuan
menghasilkan laba dari aset-aset perusahaan atau kebijakan investasinya, dan cara
aliran laba dipecah antara dividen dan laba ditahan tidak mempengaruhi nilai ini.
Pandangan efek informasi “Signal is an action taken by a firm’s
management that provides clues to investors about how management views the
firm’s prospects, Fred J Weston dan Eugene F Brigham” (2005:199). Sangkan
pengertian info content adalah teori yang membahas bahwa investor menganggap
deviden sebagai tanda-tanda bagi perkiraan manajemen atas laba. Info assymetry
Merupakan perbedaan kemampuan mengakses informasi manajemen dan juga
investor yang dapat mengakibatkan harga saham lebih rendah daripada yang akan
menjadi kondisi pasti.
Pandangan kecenderungan clientele effect adalah kecenderungan
perusahaan yang menarik investor yang menyukai kebijakan devidenya dan
pembagian devidenya, semakin perusahaan memberikan kebijakan deviden yang
menarik maka investor selalu tertarik dengan penawaran dari perusahaan.
Pemberian deviden yang khusus memberikan nilai yang lebih di kalangan investor
dan menjadi daya tarik tersendiri untuk investor, sekumpulan investor lebih tertarik
pembagian kebijakan deviden khusus. Argumen Miller dan Modligiani menyatakan
bahwa suatu perusahaan menetapkan kebijakan pembagian deviden khusus, yang
selanjutnya dapat menarik sekumpulan peminat atau clientele yang terediri dari
para investor yang menyukai kebijakan deviden khusus tersebut, Fred J Weston dan
Eugene F Brigham (2005:199).
Pandangan dari pajak apabila deviden cenderung dikenakan pajak yang
lebih tinggi daripada capital gain, maka investor akan meminta tingkat keuntungan
yang lebih tinggi dan investor selalu menginginkan keuntungan yang banyak,
sehinga seharusnya perusahaan lebih baik menentukan deviden payout ratio yang
rendah atau bahkan tidak membagikan deviden sama sekali untuk meminimumkan
biaya modal dan memaksimumkan nilai perusahaan (Sartono, 2001