Dead Stock


Dead stock diartikan sebagai barang yang telah memiliki durasi
lama dalam penyimpanan tanpa digunakan kembali serta barang yang
tidak memiliki harga jual (12). Jumlah dead stock ini juga dapat
menambah biaya penyimpanan di sebuah perusahaan. Dead stock yang
dibiarkan lama menumpuk di gudang tanpa dilakukan sebuah langkah
optimalisasi juga dapat berakhir menjadi limbah (3).
Menurut Synder, dead stock adalah bagian dari barang persediaan
yang tidak berhasil untuk dijual kembali dan memiliki durasi cukup lama
dalam penyimpanan di gudang (13). Kondisi ini seringkali terjadi
diakibatkan beberapa alasan, salah satunya adalah kurangnya minat pasar
serta kesalahan dalam perencanaan stock.
Menurut Goh & Lim, dead stock merupakan persediaan yang
terhitung sebagai persediaan yang sudah tersimpan di gudang dalam
kurun waktu 1 tahun (13). Hal ini juga dapat menimbulkan biaya – biaya
tak terduga, seperti biaya perawatan barang untuk menjaga kualitas dead
stock ini.
Persediaan mati, atau yang dikenal dengan dead stock, terjadi
karena barang dibiarkan terlalu lama di gudang yang pada akhirnya dapat
menimbulkan berbagai biaya tak terduga dan keberadaan dead stock ini
sendiri disebabkan oleh beberapa faktor yaitu (14) :
1) Persediaan Surplus
Barang yang terlalu lama tidak digunakan dapat mengalami
penurunan kualitas yang terjadi akibat penyimpanan barang
yang terlalu lama di gudang. Hal ini juga dapat terjadi
akibat berlebihnya bahan baku produksi atau yang sering
disebut dengan bahan baku sisa produksi.
2) Material Kadaluarsa
Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh overstock, yang
dimaksud dalam hal ini adalah sebuah barang yang
memiliki batas waktu penggunaan atau expired date.
3) Material Tidak Sesuai Standar
Hal ini sering terjadi akibat berubahnya standar kualitas
bahan baku produksi yang digunakan oleh perusahaan, ini
juga dapat memicu timbulnya dead stock.
4) Kerusakan Akibat Penyimpanan
Ini dapat terjadi apabila gudang penyimpanan belum
memadai atau disebut juga kurang layak hingga menjadi
satu alasan bahan baku yang disimpan menjadi rusak.
5) Perubahan Desain
Hal ini sering dialami oleh perusahaan yang memiliki
produk yang diproduksi berdasarkan permintaan konsumen
atau made by order customers. Perubahan desain yang
terjadi secara tiba tiba dapat memicu adanya dead stock.
6) Kesalahan Prediksi
Kesalahan prediksi biasanya terjadi akibat system
pengendalian stok yang kurang maksimal sehingga terjadi
pembelian berulang