Indikator Work-Life Balance
Rondonuwu., et al, mengatakan indikator yang digunakan untuk
mengukur work-life balance adalah sebagai berikut:

  1. Time Balance
    Time balance mengacu pada jumlah waktu yang dialokasikan oleh
    individu untuk pekerjaan serta aktivitas di luar pekerjaan, seperti waktu
    bersama keluarga. Keseimbangan waktu yang dimiliki karyawan
    memengaruhi seberapa banyak waktu yang dialokasikan untuk pekerjaan dan
    kehidupan pribadi, termasuk dengan keluarga, berbagai aktivitas di kantor,
    dan tempat bersosialisasi lainnya. Keseimbangan waktu yang berhasil dicapai
    oleh karyawan menunjukkan bahwa tuntutan dari keluarga tidak mengurangi
    waktu profesional yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan, begitu
    pula sebaliknya.
  2. Involvment Balance
    Involvement balance mengacu pada jumlah atau tingkat keterlibatan
    psikologis dan komitmen individu dalam pekerjaan serta aktivitas di luar
    pekerjaan. Alokasi waktu yang baik tidak selalu menjadi indikator yang
    cukup untuk mengukur tingkat work-life balance karyawan, hal ini juga harus
    didukung oleh kualitas keterlibatan dalam setiap kegiatan yang dijalani. Oleh
    karena itu, karyawan perlu terlibat secara fisik dan emosional, baik dalam
    kegiatan pekerjaan, kehidupan keluarga, maupun kegiatan sosial lainnya, agar
    keseimbangan keterlibatan dapat tercapai.
  3. Satisfaction Balance
    Satisfaction balance merujuk pada tingkat kepuasan individu terhadap
    aktivitas pekerjaannya serta hal-hal di luar pekerjaannya. Kepuasan akan
    muncul secara alami ketika karyawan merasa bahwa apa yang dilakukan
    sudah cukup baik dalam memenuhi kebutuhan baik di pekerjaan maupun
    dalam kehidupan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari kondisi yang ada dalam
    keluarga, hubungan dengan teman-teman dan rekan kerja, serta kualitas dan
    kuantitas pekerjaan yang berhasil diselesaikan.