Indikator Work-Life Balance
Rondonuwu., et al, mengatakan indikator yang digunakan untuk
mengukur work-life balance adalah sebagai berikut:
- Time Balance
Time balance mengacu pada jumlah waktu yang dialokasikan oleh
individu untuk pekerjaan serta aktivitas di luar pekerjaan, seperti waktu
bersama keluarga. Keseimbangan waktu yang dimiliki karyawan
memengaruhi seberapa banyak waktu yang dialokasikan untuk pekerjaan dan
kehidupan pribadi, termasuk dengan keluarga, berbagai aktivitas di kantor,
dan tempat bersosialisasi lainnya. Keseimbangan waktu yang berhasil dicapai
oleh karyawan menunjukkan bahwa tuntutan dari keluarga tidak mengurangi
waktu profesional yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan, begitu
pula sebaliknya. - Involvment Balance
Involvement balance mengacu pada jumlah atau tingkat keterlibatan
psikologis dan komitmen individu dalam pekerjaan serta aktivitas di luar
pekerjaan. Alokasi waktu yang baik tidak selalu menjadi indikator yang
cukup untuk mengukur tingkat work-life balance karyawan, hal ini juga harus
didukung oleh kualitas keterlibatan dalam setiap kegiatan yang dijalani. Oleh
karena itu, karyawan perlu terlibat secara fisik dan emosional, baik dalam
kegiatan pekerjaan, kehidupan keluarga, maupun kegiatan sosial lainnya, agar
keseimbangan keterlibatan dapat tercapai. - Satisfaction Balance
Satisfaction balance merujuk pada tingkat kepuasan individu terhadap
aktivitas pekerjaannya serta hal-hal di luar pekerjaannya. Kepuasan akan
muncul secara alami ketika karyawan merasa bahwa apa yang dilakukan
sudah cukup baik dalam memenuhi kebutuhan baik di pekerjaan maupun
dalam kehidupan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari kondisi yang ada dalam
keluarga, hubungan dengan teman-teman dan rekan kerja, serta kualitas dan
kuantitas pekerjaan yang berhasil diselesaikan.
