Citra merek merupakan gabungan asosiasi merek
yang terbentuk di pikiran konsumen. Pemikiran tersebut
terbentuk karena proses berulang dan konsisten dalam
menggunakan merek tertentu (Rangkuti, 2009). Kotler dan
Amstrong (2012) mengungkapkan bahwa citra merek
adalah sekumpulan keyakinan tentang merek, yaitu sebuah
persepsi yang terjadi dalam benak konsumen dan tercermin
dalam asosiasi memori pelanggan. Keller (2013)
menyatakan bahwa citra merek adalah citra tentang suatu
merek yang dianggap sebagai sekelompok asosiasi yang
menghubungkan pemikiran konsumen terhadap suatu nama
merek. Citra merek yang positif diciptakan oleh suatu
asosiasi merek yang kuat, unik dan baik.
Citra merek adalah syarat dari sebuah produk yang
kuat dan dibentuk secara konsisten dalam jangka yang
panjang, sehingga membentuk citra merek merupakan
pekerjaan yang tidak mudah. Hal tersebut dikarenakan
pembentukan citra merek pada dasarnya sama dengan
proses persepsi yang membutuhkan waktu lama hingga
pada tahap keterlibatan pelanggan. Berdasarkan pendapat di
atas, Hapsari (2008) menyimpulkan bahwa:
a. Citra merek adalah perilaku konsumen dalam
memahami, mempercayai dan memberikan pandangan
pada sebuah merek.
b. Citra merek harus diperkenalkan dengan cara tertentu
agar konsumen dapat mengingat dan mempersepsikan
sebuah merek dalam citra yang baik.
c. Citra merek bergantung pada kepercayaan dan persepsi
konsumen terhadap suatu merek.
d. Citra merek dianggap sebagai asosiasi di benak
konsumen saat mengingat sebuah merek.
e. Citra merek yang baik menyebabkan konsumen
menyukai produk serupa di masa yang akan datang, serta
menghambat pemasaran pesaing.
f. Citra merek adalah faktor penting agar konsumen
memberikan keputusan untuk menggunakan sebuah
produk sampai pada tahap loyal karena dapat
mempengaruhi emosional dan persepsi konsumen pada
suatu merek
