Pelaku – Pelaku Supply Chain Management Konstruksi


Berdasarkan beberapa model yang dikembangkan di supply chain
management konstruksi dapat disimpulkan beberapa komponen utama dalam
suatu supply chain management konstruksi, yaitu :

  1. Owner (Pelaku Hilir)
    Dalam proses produksi konstruksi bila produk yang dibuat berdasarkan
    permintaan owner, maka peran owner sangat tinggi. Proses supply chain
    management dimulai dari inisiatif owner yang memprakarsai dibuatnya
    produk konstruksi bangunan dan berakhir pada owner ketika produk
    tersebut selesai diproduksi (Vrijhoef, 1999:138).
    Peran owner ada dalam setiap tahapan, sejak tahap feasibility study,
    perencanaan, pengadaan, pelaksanaan, operasi, dan pemeliharaan. Bahkan
    dalam tahapan proses produksi owner dapat menunjuk langsung pihak
    yang terlibat untuk pelaksanaan nominated subcontractor/nominated
    supplier.
  2. Kontraktor (Pelaku Utama)
    Kontraktor adalah suatu organisasi konstruksi yang memberikan layanan
    pekerjaan pelaksanaan konstruksi berdasarkan perencanaan teknis dan
    spesifikasi yang telah ditetapkan. Sekarang ini berkembang berbagai
    organisasi yang berperan sebagai kontraktor, mulai dari perusahaan
    individu hingga perusahaan besar dengan jumlah pekerja yang banyak.
    Begitu pula dengan ruang lingkup pekerjaan kontraktor dalam suatu
    proyek, terdapat spektrum yang sangat beragam, mulai dari lingkup
    pekerjaan yang sangat sempit, hingga lingkup keseluruhan pekerjaan
    dalam suatu proyek konstruksi.
  3. Subkontraktor, Supplier, dan Mandor (pelaku di hulu)
    a. Subkontraktor dan Spesialis
    Subkontraktor adalah perusahaan konstruksi yang berkontrak dengan
    kontraktor utama untuk melaksanakan beberapa bagian pekerjaan
    kontraktor utama. Terminologi subkontraktor dalam konteks
    tradisional terdapat satu kontraktor yang memiliki hubungan kontrak
    dengan owner yaitu kontraktor utama sehingga menempatkan
    kontraktor lainnya yang tidak memiliki hubungan langsung dengan
    owner sebagai subordinan dari kontraktor utama tersebut. Hirarki
    dalam hubungan kontrak ini menimbulkan istilah kontraktor utama,
    subkontraktor, bahkan sub-subkontraktor.
    Penggolongan sub kontraktor berdasarkan jenis aktivitas terdiri dari :
    subkontraktor pada aktivitas dasar, subkontraktor pada pekerjaan yang
    membutuhkan teknik khusus, serta subkontraktor pada pekerjaan
    khusus dan yang berkaitan dengan material khusus. Sedangkan
    penggolongan subkontraktor berdasarkan sumber daya yang diberikan
    terdiri dari:subkontraktor yang memberikan jasa pelaksanaan saja
    (labor-only subcontractor), subkontraktor yang memberikan sumber
    daya berupa pekerja dan material, subkontraktor yang memberikan
    sumber daya berupa pekerja, material, dan perencanaan (design), serta
    subkontraktor yang memberikan sumber daya berupa pekerja, material,
    dan perencanaan (design), dan jasa pemeliharaan. Sedangkan specialist
    trade contractor adalah suatu perusahaan yang memberikan design,
    manufacture, purchase, assembly, installation, testing, dan commission
    dari item-item yang diperlukan dalam suatu proyek konstruksi
    bangunan. Specialist trade contractor dapat dibedakan menjadi dua,
    yaitu specialist contractor yang memberikan jasa perencanaan (design
    service) bagi item yang diproduksi serta dipasang pada konstruksi
    bangunan dan trade contractor yang melaksanakan pekerjaan dengan
    skill tertentu dalam konstruksi bangunan tanpa melakukan
    perencanaan.
    b. Subkontraktor tenaga kerja
    Industri konstruksi merupakan entry point yang relatif mudah dalam
    memasuki dunia kerja sehingga muncul suatu kelompok pekerja
    dengan skill yang rendah. Kelompok ini memiliki pemimpin yang
    disebut dengan mandor.Mandor bertindak sebagai penghubung antara
    kontraktor dengan pekerja. Mandor memberikan jasa kepada
    kontraktor sebagai pemasok tenaga kerja (labor only subcontractor)
    berbagai keahlian yang spesifik (misalnya: tukang gali, tukang batu,
    dan tukang kayu) dan tingkatan keahlian yang berbeda-beda (misalnya:
    pekerja terampil, pekerja setengah terampil, dan tukang). Dengan
    proses produksi pada industri konstruksi yang umumnya memiliki
    karakteristik penggunaan teknologi yang relatif rendah serta tingginya
    intensitas penggunaan pekerja maka keberadaan mandor sebagai
    pemasok tenaga kerja yang menyediakan jasa kepada kontraktor untuk
    mengkonversikan material menjadi intermediate product sangat
    diperlukan.
    c. Supplier dan manufaktur konstruksi
    Dilihat dari jenis material yang diperlukan dalam suatu proyek
    konstruksi bangunan, terdiri dari material alam seperti pasir, kerikil,
    batu alam, dan material hasil produksi manfaktur seperti besi beton,
    keramik, panel beton precast. Dengan demikian terdapat dua jenis
    pelaku yang terlibat dalam aliran material-material yang dibutuhkan
    dalam proyek konstruksi bangunan :
  • Manufaktur konstruksi memproduksi material-material konstruksi
    dengan mengolah material-material alam hingga menghasilkan
    komponen bangunan tertentu.
  • Supplier mendistribusikan material yang diperoleh kepada
    pengguna. Dari jenis material yang didistribusikan maka supplier
    ini dapat dibedakan menjadi supplier material alam dan supplier
    komponen bangunan.
    Material alam terlebih dahulu mengalami proses di dalam suatu
    manufaktur sebelum memasuki lokasi konstruksi hal ini menunjukkan
    adanya hubungan antar industri konstruksi dan industri manufaktur
    yang memproduksi komponen bangunan. Industri manufaktur
    khususnya yang memproduksi komponen konstruksi telah mendukung
    industri konstruksi. Adanya manufaktur konstruksi sebagai pihak yang
    melakukan produksi di luar lokasi konstruksi (off site production),
    memiliki kontribusi besar bagi konstruksi untuk lebih mengefisienkan
    proses konstruksi yang terjadi dalam lokasi konstruksi.