Beberapa alternatif bisa dipilih untuk mengelola risiko yang dihadapi,
yaitu (Hanafi, 2016) :
- Penghindaran Risiko (Risk Avoidance).
Jika memungkinkan, risiko yang tidak perlu, risiko yang bisa
dihilangkan tanpa ada pengaruh negatif terhadap pencapaian tujuan, bisa
dihindari. Misalkan saja perusahaan mempunyai dua pilihan untuk
gudangnya, satu di daerah rawan banjir, yang lainnya di daerah aman
banjir. Jika segala sesuatunya sama (misal harga sewanya sama),
perusahaan seharusnya memilih gudang yang di daerah aman banjir.
Dalam kebanyakan situasi, risiko tidak bisa dihindari. Perusahaan secara
sengaja melakukan aktivitas bisnis tertentu untuk memperoleh
keuntungan. Dalam melakukan aktivitas bisnis tersebut, perusahaan
menghadapi risiko yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Karena itu
risiko semacam itu tidak bisa dihindari. - Pengendalian Risiko (Risk Cintrol).
Untuk risiko yang tidak bisa dihindari, organisasi perlu melakukan
pengendalian risiko. Dengan menggunakan dua dimensi, probabilitas dan
severity, pengedalian risiko bertujuan untuk mengurangi probabilitas
munculnya kejadian, mengurangi tingkat keseriusan (severity), atau
keduanya. Agar bisa mengendalian risiko lebih baik, pemahaman
terhadap karakteristik risiko diperlukan. - Penanggungan atau Penahanan Risiko (Risk Retention).
Alternatif lain dari manajemen risiko adalah perusahaan menanggung
sendiri risiko yang muncul (menahan risiko tersebut atau risk retention).
Jika risiko benar – benar terjadi, perusahaan tersebut harus menyediaakan
dana untuk menanggung risiko tersebut. - Pengalihan Risiko (Risk Transfer).
Alternatif lain dari manajemen risiko adalah memindahkan risiko ke
pihak lain (mentransfer risiko ke pihak lain). Pihak lain tersebut biasanya
mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk mengendalikan risiko,
baik karena skala ekonomi yang lebih baik sehingga bisa
mendiversifikasikan risiko lebih baik, atau karena mempunyai keahlian
untuk melakukan manajemen risiko lebih baik.
