Di sejumlah industri inovasi teknologi merupakan kunci utama
kesuksesan bersaing. Globalisasi pasar menghadirkan tantangan bagi
setiap perusahaan agar mampu berinovasi secara berkesinambungan dalam
rangka menawarkan produk dan jasa yang unik dan unggul (Tjiptono,
2017:348). Introduksi produk baru berperan penting dalam
meningkatkan profitabilitas perusahaan, sementara inovasi proses
memainkan peran strategi dalam menekan biaya.
Menurut Tjiptono (2017:349), produk ‘baru’ bisa ditinjau dari
dimensi ‘kebaruan’ (newness) bagi perusahaan dan bagi pasar. Produk
baru bisa merupakan tambahan bagi lini produk perusahaan saat ini
maupun tipe kepuasan baru. Bentuk produk yang dihasilkan bisa berupa
produk orisinal, penyempurnaan/modifikasi produk, imitasi produk,
maupun inovasi produk. Secara garis besar, tujuan yang ingin dicapai
melalui proses pengembangan produk baru meliputi :
- Memenuhi kebutuhan baru dan memperkuat reputasi perusahaan
sebagai inovator melalui upaya menawarkan produk yang lebih baru
dan lebih bagus dari pada produk sebelumnya. - Mempertahankan daya saing terhadap produk yang ada di pasaran,
yaitu dengan jalan menawarkan produk yang dapat memberikan jenis
kepuasan baru. Bentuknya bisa tambahan terhadap lini produk yang
sudah ada maupun revisi terhadap produk yang telah ada. - Pengembangan produk baru merupakan proses kompleks yang
menuntut perencanaan matang. Tidak ada formula ajaib yang bisa
memastikan bahwa sebuah gagasan cemerlang pasti akan sukses
dipasarkan secara komersial sebagai produk baru. Selain itu, tidak
ada jaminan bahwa produk baru pasti akan sukses bila perusahaan
telah sukses meluncurkan beberapa produk sebelumnya. Selama ini
fakta justru menunjukkan bahwa mayoritas produk baru mengalami
kegagalan dikarenakan sejumlah faktor diantaranya :
1) Target pasar yang dituju terlampau kecil, sehingga penjualan tidak
dapat menutupi biaya riset dan pengembangan, biaya produksi dan
biaya pemasaran.
2) Kualitas produk tidak memadai dan bahkan tidak lebih bagus
dibandingkan produk-produk yang sudah ada.
3) Perusahaan tidak memiliki akses ke distributor dan pasar, misalnya
kalah bersaing dalam mendapatkan tempat (space) dalam rak-rak
pajangan pasar swalayan atau toko pengecer lainnya.
4) Timing tidak tepat, artinya produk baru diluncurkan terlalu cepat,
terlalu lambat, atau bahkan pada saat selera Pelanggan telah berubah
secara drastis
