Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kotler & Keller (2016:153) dalam bukunya Marketing Management
mendefinisikan, Satisfaction is a person’s feelings of pleasure or disappointment that
result from comparing a productor service’s perceived performance (or outcome) to
expectations. If the performance or experience falls short of expectations, the customer
is dissatisfied. If it matches expectations, the customer is satisfied. If it exceeds
expectations,the customer is highly satisfied or delighted. (Kepuasan adalah perasaan
seseorang kesenangan atau kekecewaan yang dihasilkan dari membandingkan
pelayanan produk yang dirasakan kinerja (atau hasil) dengan yang di harapkan. Jika
kinerja, atau pengalaman jatuh jauh dari harapan, pelanggan puas. Jika itu sesuai
harapan, pelanggan puas. Jika memang melebihi harapan, pelanggan sangat puas atau
senang).
Fornell dalam Lupiyoadi (2013:228) mengemukakan, banyak manfaat bagi
perusahaan dengan tercapainya tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
yang tinggi, dimana akan meningkatkan loyalitas pelanggan dan mencegah perputaran.
Perusahaan jasa mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga, mengurangi biaya
kegagalan pemasaran, mengurangi biaya operasi yang diakibatkan oleh meningkatnya
jumlah pelanggan, meningkatkan efektivitas iklan, dan meningkatkan reputasi bisnis.
Seperti dijelaskan diatas kepuasan merupakan fungsi dari kesan kinerja dan
harapan. Jika kinerja lebih baik dari pada harapan, maka itulah yang dinamakan
kepuasan. Sebaliknya jika kinerja lebih buruk daripada harapan, maka akan
menimbulkan kesenjangan atau gap. Lima kesenjangan (gap) yang menyebabkan
adanya perbedaan presepsi mengenai kualitas jasa menurut Lupiyoadi (2013:219)
adalah sebagai berikut:

  1. Kesenjangan presepsi manajemen yaituadanya perbedaan antara penilaian
    pelayanan menurut pengguna jasa dan presepsi manajemen mengenai harapan
    pengguna jasa. Kesenjangan ini terjadi karena kurangnya orientasi riset pemasaran,
    pemanfaatan yang tidak memadai atas temuan riset, kurangnya interaksi antara
    pihak manajemen dan pelanggan, komunikasi dari bawah keatas yang kurang
    memadai, serta terlalu banyaknya tingkatan manajemen.
  2. Kesenjangan spesifikasi kualitasyaitu antara persepsi manajemen mengenai
    harapan pengguna jasa dan spesifikasi kualitas jasa. Kesenjangan terjadi antara lain
    karena tidak memadainya komitmen manajemen terhadap kualitas jasa, persepsi
    mengenai tidak layaknya, tidak memadainya standarisasi tugas, dan tidak
    memadainya penyusunan tujuan.
  3. Kesenjangan penyampaian jasayaitu antara spesifikasi kualitas jasa dan
    penyampaian jasa (service delivery) kesenjangan ini terutama disebabkan oleh
    faktor-faktor seperti (a) ambiguitas peran, yaitu sejauh mana karyawan dapat
    melakukan tugas sesuai dengan harapan manajer, tetapi memuaskan pelanggan; (b)
    konflik peran, yaitu sejauh mana karyawan meyakini bahwa mereka tidak
    memuaskan semua pihak; (c) kesesuaian karyawan dengan tugas yang harus
    dikerjakan; (d) kesesuaian teknologi yang digunakan oleh karyawan; (e) sistem
    pengendalian dari atasan, yaitu tidak memadainya sistem penilaian dan sistem
    imbalan; (f) kendali yang diterima, yaitu sejauh mana karyawan merasakan
    kebebasan atau fleksibilitas untuk menentukan cara pelayanan; (g) kerja tim, yaitu
    sejauh mana karyawan dan manajemen merumuskan tujuan bersama dalam
    memuaskan pelanggan secara bersama-sama dan terpadu.
  4. Kesenjangan komunikasi pemasaranyaitu antara penyampaian jasa dan komunikasi
    eksternal. Harapan pelanggan mengenai kualitas jasa dipengaruhi oleh pernyataan
    yang dibuat oleh perusahaan melalui komunikasi pemasaran. Kesenjangan ini terjadi
    karena (a) tidak memadainya komunikasi horizontal dan (b) adanya kecenderungan
    memberikan janji yang berlebihan. Dalam hal ini, komunikasi eksternal telah
    mendistorsi harapan pelanggan.
  5. Kesenjangan dalam pelayanan yang dirasakan yaituperbedaan presepsi antara jasa
    yang di rasakan dan yang diharapkan oleh pelanggan. Jika keduanya terbukti sama,
    maka perusahaan akan memperoleh citra dan dampak positif. Namun, apabila yang
    diterima lebih rendah dari yang diharapkan, kesenjangan ini akan menimbulkan
    permasalahan bagi perusahaan.
    Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur dan memantau
    kepuasan pelanggan. Tjiptono (2012:318) mengemukakan terdapat empat metode
    untuk mengukur kepuasan pelanggan yaitu:
  6. Sistem keluhan dan saranmemberikan kesempatan bagi pelanggan untuk
    menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan mereka melalui kotak saran yang
    diletakkan ditempat strategis, saluran telepon khusus (customer hot lines), email,
    kartu komentar, ataupun via pos.
  7. Survei kepuasan pelangganmelakukan penelitian atau survei pasar mengenai
    kepuasan pelanggan dengan menggunakan pos, telepon, maupun wawancara
    pribadi.
  8. Ghost Shopping adalahmetode ini dilakukan dengan cara mempekerjakan beberapa
    orang (ghost shopping) untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan atau
    pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing. Lalu ghost shopper itu
    menyampaikan hasil temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk
    perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-
    produk tersebut
  9. Lost Customer Analysis adalah metode ini cukup unik. Perusahaan berusaha
    menghubungi para pelanggannya yang telah berhenti membeli atau yang telah
    beralih pemasok, yang diharapkan adalah akan diperolehnya informasi penyebab
    terjadinya hal tersebut. Informasi ini sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk
    mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan
    loyalitas pelanggan