Steinberg (2002) membagi kemandirian dalam tiga dimensi,
yaitu:
- Kemandirian Perilaku (Behavioral Autonomy)
Kemandirian perilaku mencakup kemampuan untuk
meminta pendapat orang lain jika diperlukan, menimbang
berbagai pilihan yang ada dan pada akhirnya mampu membuat
keputusan dengan mandiri dan dapat
mempertanggungjawabkannya. Dalam dimensi ini terdapat
beberapa indikator. Pertama, changes in decision-making,
perubahan dalam kemampuan mengambil keputusan yang
meliputi dalam menyadari konsekuensi yang muncul pada
pengambilan keputusan, dan menghargai serta berhati-hati
terhadap saran yang diterima. Kedua, changes in susceptibility,
perubahan dalam penyesuaian terhadap kerentanan pengaruh-
pengaruh dari luar yang berupa menghabiskan waktu di luar
keluarga dan mampu mempertimbangkan berbagai alternatif dari
tindakan. Ketiga, changes in feelings of self reliance, perubahan
dalam rasa percaya diri serta mampu mengekspresikan
tindakannya. - Kemandirian Emosi (Emotional Autonomy)
Kemandirian emosi didefinisikan sebagai sebuah aspek
dari kemandirian yang menyatakan perubahan hubungan
individual dengan orang terdekat.Seperti hubungan emosional
dengan keluarganya.
Dimensi ini terdapat beberapa indikator. Pertama,de-
idealized, mampu memandang orang terdekat sebagaimana
adanya, maksudnya tidak memandang sebagai orang yang
sempurna dalam melakukan kesalahan. Kedua, seeing parent as
people, mampu memandang orang terdekat seperti orang lainnya
yang dapat menempatkan posisi sesuai dengan situasi dan kondisi.
Ketiga, non dependency, mampu lebih bersandar pada
kemampuan dirinya sendiri, daripada membutuhkan bantuan
orang terdekatnya, tetapi tidak sepenuhnya lepas dari pengaruh
orang terdekatnya. Keeempat, individuated, mampu dan memiliki
kelebihan secara pribadi untuk mengatasi masalah dalam
hubungannya dengan orang terdekat ataupun keluarganya.
Sesorang percaya bahwa ada sesuatu tentang dirinya yang tidak
diketahui oleh keluarganya. - Kemandirian Nilai (Value Autonomy)
Kemandirian nilai merupakan kemampuan seseorang
untuk mengambil keputusan sendiri dan lebih berpegang pada
prinsip yang dimiliki. Dengan kata lain, menggambarkan
kemampuan untuk bertahan pada tekanan apakah akan mengikuti
permintaan orang lain yang dalam arti memiliki prinsip tentang
benar atau salah, tentang apa yang penting dan tidak penting.
Kemandirian memiliki beberapa indikator.Pertama, moral
development, bagaimana bertindak dalam suatu situasi, bila
dikaitkan dengan perilaku menolong, individu bersedia menolong
sesama. Kedua, political thinking, mampu berpikir lebih abstrak,
misalnya bila ditanya apa tujuan hukum mungkin akan dijawab
untuk memberi kenyamanan, menuntun orang sehingga tidak
sebatas untuk membuat orang tidak mencuri. Ketiga, religious
belief, seperti moral dan kepercayaan prinsip menjadi lebih
abstrak, lebih prinsip dan lebih bebas. Kepercayaan lebih
berorientasi pada spiritual dan bukan hanya mengamati pada
kebiasaan agama.
