Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kompensasi dalam suatu
perusahaan. Beberapa ahli memiliki pendapat yang bervariasi mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi kompensasi. Menurut Sutrisno (2017) faktor yang
mempengaruhi kompensasi, yaitu sebagai berikut :
- Tingkat biaya hidup
Kompensasi yang diterima seorang karyawan baru mempunyai arti bila dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum (KFM). Kebutuhan
fisik minimum karyawan yang tinggal dikota besar akan jauh berbeda dengan
kebutuhan fisik minimum bagi karyawan yang tinggal di kota kecil.
Perbedaan tingkat KFM akan selalu mengikuti fluktuasi tingkat biaya hidup
sehari-hari yang terdapat di lokasi yang berbeda. Bila perusahaan tidak
tanggap terhadap fluktuasi biaya hidup dalam menetapkan kompensasi
akibatnya tentu dapat dibayangkan, akan terjadi pergolakan dalam perusahaan,
berkembangnya rasa tidak puas, atau pemogokan pekerja untuk menuntut
kenaikan upah. - Tingkat kompensasi yang berlaku diperusahaan lain
Dewasa ini transportasi makin lancar, arus informasi tidak mungkin dapat
dibendung lagi. Termasuk informasi tentang kompensasi yang berlaku di
perusahaan lain untuk macam kegiatan yang sama, cepat diketahui. Bila
tingkat kompensasi yang diberikan kepada karyawan lebih rendah dari yang
dapat diberikan oleh perusahaan lain untuk pekerjaan yang sama, maka akan
dapat menimbulkan rasa tidak puas di kalangan karyawan, yang dapat
berakhir dengan banyaknya tenaga potensial meninggalkan perusahaan.
Sebaliknya, jika tingkat kompensasi yang diberikan terlampau tinggi, juga
akan membawa dampak buruk, karena seolah-olah perusahaan menutup mata
terhadap tingkat kompensasi rata-rata yang berlaku. Untuk meniadakan hal
negatif seperti ini, maka perusahaan perlu selalu melakukan studi banding
dalam menentukan tingkat kompensasi yang sedang berlaku di perusahaan-
perusahaan lain, agar karyawan dan perusahaan tidak ada yang dirugikan. - Tingkat kemampuan perusahaan
Perusahaan yang memiliki kemampuan tinggi akan dapat membayar tingkat
kompensasi yang tinggi pula bagi para karyawannya. Sebaliknya, perusahaan
yang tidak mampu tentu tidak mungkin dapat membayar tingkat kompensasi
yang diharapkan para karyawan. Oleh sebab itu, perusahaan yang bijaksana
harus selalu menginformasikan kepada seluruh karyawannya tentang tingkat
kinerja perusahaan dari waktu ke waktu. Bila karyawan bekerja dengan baik,
maka kinerja perusahaan juga akan tinggi, sehingga perusahaan dapat
membayar kompensasi lebih besar kepada karyawan. - Jenis pekerjaan dan besar kecilnya tanggung jawab
Jenis pekerjaan biasanya akan menentukan besar kecilnya tanggung jawab
para karyawan. Karyawan yang mempunyai kadar pekerjaan yang lebih sukar
dan dengan tanggung jawab yang lebih besar, tentu akan diimbangi dengan
tingkat kompensasi yang lebih besar pula. Adapun pekerjaan yang sifatnya
tidak begitu sulit dan kurang memerlukan tenaga dan pikiran, akan mendapat
imbalan kompensasi yang lebih rendah. Contohnya, seorang montir mobil
memerlukan keterampilan yang lebih rumit dan tanggung jawab lebih besar
dibandingkan dengan seorang pekerja bagian pengetikan. Kedua jenis
pekerjaan ini tentu memperoleh tingkat kompensasi yang berlainan. - Peraturan perundang-undangan yang berlaku
Suatu perusahaan akan selalu terikat pada kebijaksanaan dan peraturan yang
dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk pula tingkat kompensasi yang
diberikan kepada para karyawan. Pemerintah menetapkan bahwa kompensasi
yang diberikan oleh suatu perusahaan haruslah dapat memenuhi kebutuhan
fisik minimum (KFM) para karyawan. Bila hal ini tidak dilaksanakan, maka
perusahaan ini akan termasuk perusahaan yang tidak memenuhi peraturan
pemerintah. Realitanya banyak perusahaan yang tidak mengikuti peraturan-
peraturan yang berlaku dalam pemberian kompensasi pada para karyawan.
Oleh karena itu, sangat diperlukan peranan serikat pekerja sebagai jembatan
antara karyawan dengan perusahaan. Disini letak kaitan pemberian
kompensasi seharusnya memenuhi peraturan perundang-undangan yang
berlaku. - Peranan serikat buruh
Dalam masyarakat kita, keberadaan serikat pekerja yang ada dalam
perusahaan-perusahaan dirasa penting. Ia akan dapat menjembatani
kepentingan para karyawan dengan kepentingan perusahaan. Supaya tidak
terjadi konflik antara kedua kepentingan, maka peranan serikat pekerja dapat
membantu memberikan masukan dan saran kepada perusahaan untuk
memelihara hubungan kerja dengan para karyawan. Para karyawan pun akan
merasa terjamin kepentingan mereka, bila keberadaan serikat pekerja itu
benar-benar terasa turut memperjuangkan kepentingannya dan tidak hanya
sebagai tameng penjaga kepentingan perusahaan
