Etika bersumber dari moralitas yang merupakan sistem nilai tentang bagaimana kita
harus hidup secara baik sebagi manusia (Keraf, 1991: 20). Jika moralitas yang menjadi acuan,
etika memberikan panduan apakah suatu perilaku tertentu dapat digolongkan sebagai
tindakan bermoral atau tidak bermoral. Pemilahan perilaku ke dalam berbagai kategori
perilaku etis dan tidak etis sangat dibutuhkan untuk menjaga dan memelihara kesinambungan
organisasi kehidupan dimanapun. Etika bisnis merupakan penerapan etika secara umum
terhadap perilaku bisnis.
Berdasarkan dimensi etika bisnis, perusahaan sebagai agen moral harus menerapkan
perilaku etis dalam menjalankan bisnisnya. Menurut Post et al.(2002) setidak-tidaknya
terdapat tujuh alasan mengapa perusahaan harus menjalankan bisnis secara etis, yaitu sebagai
berikut:
- Meningkatnya harapan publik agar perusahaan menjalankan bisnisnya secara etis.
Perusahaan yang tidak berhasil dalam menjalankan bisnisnya secara etis akan
mengalami sorotan, kritik, bahkan hukuman. - Agar perusahaan tidak melakukan berbagai tindakan yang membahayakan pemangku
kepentingan lainnya. - Penerapan etika bisnis di perusahaan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini
dapat dicapai melalui terjadinya penurunan risiko korupsi, manipulasi, penggelapan,
dan berbagai bentuk perilaku tidak etis lainnya. - Penerapan etika bisnis seperti kejujuran, menepati janji, dan menolak suap dapat
meningkatkan kualitas hubungan bisnis. - Agar perusahaan terhindar dari penyalahgunaan yang dilakukan karyawan maupun
kompetitor yang bertindak tidak etis. - Penerapan etika perusahaan secara baik didalam suatu perusahaan dapat
mengindarkan terjadinya pelanggaran hak-hak pekerja oleh pemberi kerja. - Mencegah agar perusahaan (yang diwakili para pemimpinnya) tidak memperoleh
sanksi hukum karena telah menjalankan bisnis secara tidak etis
