Adapun karakteristik media sosial menurut Nasrullah
(2016:16-33) :
- Jaringan (network) antar pengguna
Karakter media sosial adalah membentuk jaringan di antara
penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia nyata (offline)
antarpengguna saling kenal atau tidak, namun kehadiran media
sosial memberika medium bagi pengguna untuk terhubung
secara mekanisme teknologi. Jaringan yang terbentuk ini
akhirnya membentuk komunitas atau masyarakat yang secara
sadar maupun tidak akan memunculkan nilai-nilai yang ada di
masyarakat sebagaimana ciri masyarakat di dalam teori-teori
sosial. - Informasi (information)
Informasi menjadi entitas yang penting di media sosial sebab
tidak seperti media-media lainnya di internet, pengguna media
sosial mengkreasikan representasi identitasnya, memproduksi
konten dan melakukan interaksi berdasarkan informasi. Di
media sosial, informasi menjadi komoditas yang di konsumsi
oleh pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan
komoditas yang di produksi dan didistribusikan antarpengguna
itu sendiri. Dan kegiatan konsumsi inilah pengguna dan
pengguna lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhirnya
sadar atau tidak bermuara pada institusi masyarakat berjejaring
( Network Society ). - Arsip (Archive)
Bagi pengguna medsos arsip menjadi sebuah karakter yang
menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa di akses
kapan pun melalui perangkat apapun setiap informasi apapun
yang di unggah di Instagram, sebagai contoh, informasi itu tidak
hilang begitu saja saat pergantian hari,, bulan, bahkan sampai
tahun. Informasi itu akan terus tersimpan dan bahkan dengan
mudahnya bisa di akses. - Interaksi (Interactivity)
Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan
antarpengguna. Jaringan ini tidak sekedar memperluas
hubungan pertemenan atau pengikut (followers) di internet
semata, tetapi juga harus dibangun dengan interaksi
antarpengguna tersebut. Secara sederhana interaksi yang terjadi
di media sosial minimal berbentuk saling mengomentari atau
memberikan tanda, seperti tanda love di Instagram. - Simulasi sosial (Simulation of Society)
Menurut Jean Baudrillard, simulations and Simulacra dalam
Nasrullah ( 2016:28 ), Baudrillard mengungkapkan gagasan
simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak
semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu.
Menurut Bell (2001) dalam Nasrullah (2016) proses simulasi
terjadi dalam Cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan
perkembangan teknologi komunikasi sera kemunculan media
baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas,
menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual. - Konten oleh pengguna (User-generated content)
Karaketeristik media sosial lainnya adalah konten oleh
pengguna atau lebih disebut dengan User Generated Content
(UGC). Term ini menunjukan bahwa di media sosial konten
sepenuhnya milik dan berdasarkan kontribusi pengguna atau
pemilik akun.
UGC merupakan relasi simbiosis dalam budaya media
baru yang memberikan kesempatan dan keleluasaan pengguna
untuk berpartisipasi (Lister, et al 2003 dalam Nasrulla 2016).
Situasi ini jelas berbeda jika dibandingkan dengan media lama
(tradisional) dimana khalayaknya sebatas menjadi objek atau
sasaran yang pasif dalam distribusi pesan. - Penyebaran (Sharing)
Media sosial tidak hanya menghasilkan konten yang dibangun
dari dan dikonsumsi oleh penggunanya, tetapi juga
didistribusikan sekaligus dikembangkan oleh penggunanya
(Benkler : 2012; Cross : 2011 dalam Nasrullah 2016). Praktik ini
merupakan ciri khas dari media sosial yang menunjukkan bahwa
khalayak aktif menyebarkan konten sekaligus
mengembangkannya. Maksud dari pengembangan ini adalah
konten yang ada mendapatkan, misalnya, komentar yang tidak
sekadar opini tetapi juga data atau fakta terbaru.
