Keterikatan Merek


Konsep keterikatan merek berasal dari teori keterikatan (attachment theory)
menurut teori ini tingkat keterikatan emosional seseorang terhadap suatu objek dapat
memengaruhi cara individu berinteraksi dengan objek tersebut (Bowlby, 2012). Sebagai
contoh individu yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan seseorang cenderung
lebih berkomitmen dan bersedia berkorban demi orang tersebut. Keterikatan merek
mengacu pada ikatan, hubungan dan identifikasi dengan merek yang dapat menjadi
faktor yang kuat dalam menentukan konsumen untuk melakukan pembelian di masa lalu
dan di masa depan (Esch et al., 2006). Sejalan dengan itu Park et al. (2010) berpendapat
bahwa keterikatan merek dapat mempengaruhi niat beli konsumen terhadap produk.
Konsumen yang memiliki keterikatan kuat terhadap produk cenderung memiliki niat
beli yang lebih besar. Jadi berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa
keterikatan merek adalah ikatan emosional yang terbentuk antara konsumen dengan
merek dan dapat menjadi faktor yang menentukan konsumen akan melakukan
pembelian ulang atau tidak, jika konsumen merasakan ikatan yang kuat terhadap merek,
maka dapat dipastikan bahwa konsumen tersebut akan setia dan bahkan menjadi orang
yang secara sukarela membantu dalam memasarkan merek tersebut.
Keterikatan merek memiliki peran yang sangat signifikan dan penting untuk
manajemen merek, karena keterikatan merek dapat membantu perusahaan menciptakan
basis pelanggan yang setia secara emosional (Fernandes & Moreira, 2019). Fernandes
& Moreira (2019) menjelaskan bahwa keterikatan merek sebagai kekuatan ikatan
kognitif dan emosional yang menghubungkan merek dengan diri konsumen dan hal ini
melibatkan dua elemen unik yaitu hubungan antara merek dan penggunanya, lalu ikatan
kognitif dan emosional yang memproses merek tersebut untuk masuk ke dalam ingatan
penggunanya. Solem (2016) menjelaskan bahwa ada beberapa indikator mengenai
keterikatan merek konsumen yaitu :

  1. Keterikatan Emosional: Mengacu pada tingkat antusiasme pelanggan terhadap
    suatu merek produk atau jasa tertentu.
  2. Keterikatan Kognitif: Mengacu pada sikap pelanggan yang secara konstan
    memikirkan tentang merek produk atau jasa tertentu.
  3. Keterikatan Perilaku: Mengacu pada sikap pelanggan yang selalu mendukung
    produk atau jasa tertentu