Laba yang menjadi sumber informasi dalam pengambilan keputusan bagi
pengguna laporan keuangan adalah laba akuntansi. Laba akuntasi yang diharapkan
tidak hanya tinggi namun juga harus persisten. Laba dibedakan ke dalam dua
kelompok: sustainable earnings (earnings persistent atau core earnings) dan
unusual earnings atau transitory earnings. Persistensi laba merupakan laba yang
mempunyai kemampuan sebagai indikator laba periode mendatang (future
earnings) yang dihasilkan oleh perusahaan secara berulang-ulang (repetitive) dalam
jangka panjang (sustainable). Sedangkan unusual earnings atau transitory earnings
merupakan laba yang dihasilkan secara temporer dan tidak dapat dihasilkan secara
berulang-ulang (non-repeating), sehingga tidak dapat digunakan sebagai indikator
laba periode mendatang (Penman, 1982 dalam Sunarto, 2009).
Scott (2015) mendefinisikan persistensi laba sebagai revisi laba yang
diharapkan di masa yang akan datang (expected future earning) yang diimplikasi
oleh inovasi laba tahun berjalan (current earnings). Sehingga persistensi laba juga
akan dilihat dari inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan
harga saham. Sedangkan menurut Harahap (2010), persistensi laba merupakan
revisi laba yang mencerminkan kualitas laba perusahaan dan menunjukkan bahwa
perusahaan dapat mempertahankan laba dari waktu ke waktu.
Laba yang persisten dapat digunakan sebagai pengukur laba itu sendiri,
artinya laba saat ini digunakan sebagai indikator laba periode mendatang. Laba
yang semakin persisten menunjukkan laba semakin infomatif. Sebaliknya jika laba
kurang persisten, maka laba menjadi kurang informatif (Tucker dan Zarowin, 2006
dalam Sunarto, 2009). Persistensi laba sebagai salah satu pengukuran kualitas laba
diukur dari slope coefficient regresi current earnings pada lagged earnings (Francis
et al, 2004 dalam Sunarto, 2009).
Nichols dan Wahlen (2004) dalam Sunarto (2009) menyatakan bahwa teori
tentang angka laba akuntansi yang mengarah pada persistensi laba tergantung pada
tiga asumsi. Pertama, teori yang mengasumsikan bahwa laba memberikan informasi
kepada para pemegang saham tentang profitabilitas saat ini. Kedua, teori yang
mengasumsikan bahwa profitabilitas saat ini dan periode mendatang memberikan
informasi kepada para pemegang saham tentang dividen saat ini dan periode
mendatang. Ketiga, teori yang mengasumsikan bahwa harga saham sama dengan
nilai sekarang dari ekspektasi dividen periode mendatang
